Bagaimanakah Cara Alam Semesta Berakhir (Kiamat)?

2
1301
Ilustrasi kehancuran alam semesta yang dibuat oleh National Geographic Society.

Sebelumnya saya telah menulis tentang asal mula penciptaan alam semesta yang diawali dengan Big Bang (Ledakan Besar) dan sifat alam semesta yang ternyata mengembang. Dalam pembahasan kali ini saya akan mengungkap misteri bagaimana alam semesta berakhir (terjadinya kiamat besar), di mana akan terjadinya kehancuran maha dahsyat di seluruh sudut alam semesta hingga tak tersisa sebagai akhir dari riwayat alam semesta, tentunya apa yang saya kaji ini berdasarkan kaidah-kaidah ilmu yang ada dan konsep model awalnya sudah diterima secara umum di dunia sains astronomi modern.

Untuk memahami apa yang kita kaji pada pembahasan kali ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui seperti apa model alam semesta yang mungkin ada saat ini, untuk menjadi acuan agar mengetahui lebih jauh apa yang kita bahas setelah ini. Selain itu saya sarankan untuk membaca artikel saya sebelumnya tentang Big Bang dan Mengembangnya Alam Semesta. Karena konsep berakhirnya alam semesta ini tak lepas dari pemahaman kita tentang penciptaan awal alam semesta.

Ok, tanpa bertele-tele langsung saja kita ke pembahasan konsep model awal alam semesta yang diterima sains saat ini.

Model Alam Semesta
Dalam model alam semesta yang ditemukan Alexandra Friedman, semua galaksi bergerak menjauh dari galaksi lain atau dengan kata lain mengembang. Dalam artikel sebelumnya sudah saya singgung tentang menggembangnya alam semesta yang dibuktikan oleh astronom Edwin Hubble berdasarkan pergeseran merah spektrum cahaya bintang di galaksi jauh, perumpamaan mengembangnya alam semesta sama seperti sebuah balon dengan sejumlah titik dikulitnya yang sedikit demi sedikit ditiup hingga mengembang. Selagi balon mengembang, jarak antara sembarang dua titik membesar, tetapi tidak ada titik yang bisa disebut sebagai pusat pengembangan karena seluruh alam semesta mengembang secara seragam.

Alam semesta dapat diumpamakan dengan balon yang di tiup dan mengembang, seluruh benda angkasa pada kulit balon tersebut menjauh satu sama lain seiring dengan mengembangnya balon 

Begitu pula, di model Friedman, kecepatan pergerakan menjauh antara dua galaksi sebanding dengan jarak antara kedua galaksi. Jadi model ini memprediksi bahwa pergeseran merah pada cahaya dari suatu galaksi sebanding dengan jaraknya dari kita, tepat seperti yang ditemukan Hubble. Meski modelnya sukses dan prediksinya terhadap pengamatan Hubble tepat, karya Friedman tetap tak dikenal di Barat sampai model-model serupa ditemukan pada 1935 oleh ahli fisika Amerika Howard Robertson dan ahli matematika Britania Arthur Walker, menanggapi penemuan Hubble atas pengembangan alam semesta yang seragam.

Sedikitnya ada tiga kemungkinan model alam semesta yang mendukung teori Big Bang, ketiga model ini sangatlah menentukan kesimpulan akhir bagaimana alam semesta akan mengakhiri hidupnya atau dengan kata lain kiamat besar. 
Ketiga teori alam semesta ini ditemukan oleh fisikawan Rusia, Alexandra Friedman. Friedman menemukan satu model, tapi sebenarnya ada tiga model berbeda yang mengikuti dua asumsi dasar Friedman. 

Model pertama (yang telah Friedman temukan), alam semesta mengembang cukup lambat sehingga tarikan gravitasi antar berbagai galaksi menyebabkan pengembangan melambat sampai akhirnya berhenti. Galaksi-galaksi kemudian mulai bergerak saling mendekat dan alam semesta menyusut.
Model kedua (alam semesta datar), menunjukkan bagaimana jarak antara dua galaksi berubah seiring waktu. Awalnya berjarak nol (saking dekatnya sampai kerapatan tak hingga), meningkat menjadi maksimum, lalu turun lagi.

Dalam model ketiga (alam semesta terbuka), alam semesta mengembang sangat cepat sehingga tarikan gravitasi tak bisa menghentikannya, walaupun hanya bisa melambatkannya sedikit. Model ini menunjukkan pemisahan antara dua galaksi yang jarak awal adalah nol dan akhirnya kedua galaksi bergerak saling menjauh dengan kecepatan tetap.

Satu ciri yang mencolok model Friedman yang pertama adalah bahwa alam semesta terbatas dalam ruang, tapi ruang itu sendiri pun tak punya batas. Gravitasi sangat kuat dan membuat ruang melengkung sampai bertemu dirinya sendiri, sehingga menjadi seperti permukaan Bumi. Jika orang berjalan ke arah tertentu di permukaan Bumi, dia tak akan bertemu dengan rintangan yang tak bisa dilewati atau jatuh dari tepian, tapi akhirnya kembali ke titik awal. Model pertama sangatlah cocok dengan pembuktian Teori Relativitas Umum Einstein bahwa cahaya, ruang dan waktu melengkung dengan syarat semakin besar massa, maka semakin melengkung ruang dan waktu.

Ciri pada model kedua, dengan laju pengembangan yang tepat, ruang berbentuk datar yang menjadikan ruang di alam semesta tak terbatas. Adapun ciri pada model ketiga, ruang melengkung dengan cara lain, seperti permukaan pelana yang menjadikannya juga ruang tak terbatas di alam semesta.

Pertanyaannya, model manakah yang merupakan akhir dari alam semesta kita?


Sangatlah sulit jika menentukan model manakah yang menentukan akhir alam semesta kita pada ketiga model tersebut, karena kita harus mengetahui total seluruh massa materi yang ada di alam semesta sehingga dapat disimpulkan apakah alam semesta berakhir dengan menyusut dan terjadi keruntuhan besar atau terus konstan mengembang. Jika seluruh total kerapatan massa di alam semesta ini di atas titik kritis maka alam semesta menyusut, sebaliknya jika mendekati atau kurang dari titik kritis maka alam semesta terus mengembang.

Untuk menghitung seluruh massa materi alam semesta sangatlah mustahil karena adanya materi gelap dan energi gelap di alam semesta yang jumlahnya sangat dominan dan tidak sebanding dengan materi yang bisa kita lihat, materi gelap dan energi gelap inilah yang mempengaruhi total seluruh massa materi alam semesta. Untuk mengetahui apa itu materi gelap dan energi gelap silahkan baca artikel saya Misteri Terbesar Astronom, Apa itu Materi Gelap dan Energi Gelap?.

Perbandingan komposisi alam semesta, Energi Gelap (70%), Materi Gelap (26%)
dan semua yang bisa kita lihat di Alam Semesta (hanya 4%)

Selain faktor di atas, astronom kesulitan mendeteksi radiasi materi gelap ini meskipun menggunakan teleskop super canggih sekalipun, mereka hanya dapat mendeteksi pengaruh materi disekitar materi gelap ini dari citra galaksi-galaksi yang ada.

Lingkaran Materi Gelap di Cluster CI 0024+17 dari Teleskop Luar Angkasa Hubble
Materi gelap pada Galaksi Kluster Peluru (The Bullet Cluster) diambil dari Satelit Sinar-X Chandra

Model manakah yang paling sesuai dengan akhir alam semesta kita saat ini? dan bagaimanakah cara membuktikannya? Untuk menjawabnya saya akan menggunakan cara pembuktian terbalik dengan merujuk pada referensi ayat Al Quran. Kenapa dari Al Quran? karena kitab inilah yang secara tepat meramalkan sekaligus membuktikan asal mula alam semesta dari Big Bang (Ledakan Besar) dan membuktikan juga bahwa alam semesta mengembang, padahal saat Al Quran ini diturunkan 14 abad yang lalu, instrumen seperti teleskop belum ditemukan.

Referensi ayat Al Quran yang menjelaskan akhir alam semesta ialah surat Al-Anbiyaa’ ayat 104 :

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.


Model kedua dan ketiga alam semesta Friedman sangatlah tidak cocok pada ayat Al Quran disini, pasalnya pada hari terjadinya kiamat besar seluruh alam semesta akan digulung seperti lembaran kertas yang digulung hingga diameternya menyusut ke titik pusat atau dengan kata lain kembali seperti saat pertama kali penciptaan alam semesta terjadi.

Model pertama adalah yang benar menurut penjelasan ayat Al Quran di atas.

Big Crunch (Keruntuhan Besar) merupakan cara alam semesta berakhir menurut Al Quran

Selain itu model pertama alam semesta sangatlah cocok dengan teori berakhirnya riwayat bintang tunggal super massive (super padat) yang mengakhiri hidupnya menjadi black hole (lubang hitam), bintang mati ini menghisap apapun materi yang berada di sekitarnya. Lihat artikel saya mengenai lubang hitam disini Mengenal Lubang Hitam (dengan Video).

Saya kira sampai kapan pun materi gelap yang mempengaruhi akhir alam semesta ini tidak dapat ditentukan massanya, meskipun dengan perhitungan matematis dan teknologi yang ada dan memang belum ada. Karena jika seandainya pun astronom dapat mengetahui seluruh total massa materi misterius ini, maka mereka dapat dengan mudah menentukan waktu kapan terjadinya keruntuhan besar dengan perhitungan komputer. Hal ini tidaklah mungkin karena dalam prespektif Islam tidak ada yang tau kapan pastinya terjadi kiamat.

Apabila di tarik ke titik awal penciptaan, menyusutnya alam semesta sangatlah mirip dengan desain sebuah terompet, apakah ini yang di maksud terompet malaikat Isrofil?

Kesimpulan
Model alam semesta pertama Friedman sangatlah cocok dengan riwayat akhir alam semesta, yaitu alam semesta beserta seluruh isinya akan menyusut runtuh kedalam dirinya sendiri dan saling berbenturan satu sama lain antar galaksi yang memiliki gravitasi, suhu dan kerapatan tak hingga dan mengerucut ke titik ber-volume nol seperti awal mulanya alam semesta diciptakan.

Wallahu’alam bissawab, Semoga bermanfaat bagi pembaca yang budiman 🙂

Sumber :
A Brief History of Time, Stephen Hawking

2 COMMENTS

  1. Very interesting,ketika konsep al-quran dan theory ilmuwan dipertemukan,
    Ada satu pertanyaan saya yang lahir pula dari teori para pemikir islam,dimana bumi diposisikan sebagai pusat semesta,
    Keabsahan yang sebenarnya sangat diragukan mengingat model observable universe yang sudah sangat detail dan komparasi bumi-semesta which extremely too far,tapi mungkinkah bumi menjadi pusat semesta??
    karena para pencetus teori ini juga merujuk pada ayat-ayat al-qur'an,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here