Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia yang Tidak Pernah Dipublikasikan

2
27376

Tak ada nama yang lebih terkenal dalam dunia perbankan internasional seperti keluarga Rothschild, selain keluarga Rockefeller di Amerika Serikat. Meskipun demikian, hanya sedikit sekali fakta yang dapat diperoleh mengenai keluarga ini. Berbagai legenda, mitos, dan kisah mengenai keluarga ini telah banyak beredar, namun tak satupun dari cerita tersebut yang berhasil mengungkap jati diri keluarga ini yang sesungguhnya, sebuah keluarga yang mampu mengubah alur sejarah dan memperjualbelikan kedudukan para negarawan, raja, bangsawan dan uskup yang tak ubahnya sebuah komoditas dagang, lalu mencampakkannya bak baju atau sepatu usang jika paranan mereka tak lagi diperlukan. Keluarga inilah yang mendalangi berbagai revolusi, perang, dan pemberontakan, serta mengubah konstelasi politik Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat untuk selamanya. Dan keluarga Rothschild memiliki darah Yahudi, sebuah fakta yang tak pernah sekalipun mereka sembunyikan atau samarkan.

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia
Mustafa Kemal Atatürk (1881 – 1938) di Kongres Sivas (diadakan pada tanggal 4 September sampai 11 September 1919), seorang agen Rothschild dan dialah orang yang paling bertanggungjawab atas runtuhnya Kekhilafahan Islam di Turki terakhir kalinya pada tahun 1924.

Sepanjang catatan sejarah yang terbentang dari India, Babilonia, hingga Palestina di masa yang lampau industri finansial adalah sektor usaha yang paling banyak dikuasai oleh bangsa Yahudi. Banker Yahudi mendominasi pasar-pasar uang di Frankfurt, London, New York, dan Hong Kong. Kejayaan mereka telah menyebar ke seluruh penjuru dunia sejak tahun 1917. Para pialang saham berdarah Yahudi menjadi tulang punggung penggerak bursa efek London, Paris, dan New York. Mereka mengendalikan fluktuasi harga logam mulia, permata, dan mata uang di seluruh penjuru dunia.

Semua hal yang kami sampaikan adalah fakta.

Kami menuliskannya bukan dengan maksud untuk menyindir suku bangsa tertentu, sebab bangsa Yahudi sendiripun mengakui kebenaran hal ini. Saat Inggris mempersiapkan perang melawan Jerman pada tahun 1910, para banker internasional yang berdarah Yahudi memegang berbagai posisi penting di wilayah-wilayah yang strategis dan di puncak piramida perbankan tersebut bertenggerlah nama keluarga Rothschild beserta seluruh lembaga keuangan yang menjadi rekanannya. Di Perancis ada nama Rothschild, Fould, Camondo, Pereira, dan Bischoffheim; di Jerman ada nama Rothschild, Warschauer, Mendelssohn, Bleichroder; di Inggris ada nama Sassoon, Stem, Rothschild, dan Montague; di Timur Tengah ada nama Sassoon; di Rusia ada Gunzburg; sementara di Amerika Serikat ada nama-nama seperti J.P. Morgan, Kuhn, Loeb and Co., Seligman and Co., Speyer and Co., Warburg, dan Lazard Freres.

Di atas lembaga-lembaga keuangan tersebut berdirilah House of Rothschild. Para kritikus mengatakan bahwa Morgan dan Kuhn Loeb adalah tangan kanan Rothschild dan semua lembaga perbankan tersebut memiliki afiliasi dengan bank-bank yang dimiliki oleh Rothschild.

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia
Banque privée Edmond de Rothschild, salah satu Bank private swasta milik Edmond de Rothschild

Lembaga-lembaga perbankan tersebut bekerja secara bahu-membahu sebab mereka berspekulasi dengan cara yang sama dan sama-sama memiliki hubungan yang erat dengan keluarga Rothschild. Pendiri the House of Rothschild adalah Mayer Anselm Bauer (Rothschild), putra dari Anselm Moses Bauer, seorang pedagang dari Frankfurt. Ayahnya bekerja sebagai penjual barang baru dan bekas, koin kuno, dan tukang kredit. Di depan kios mereka dipajang sebuah logo berbentuk tameng berwarna merah, dan nama Rothschild dalam bahasa Jerman berarti “Tameng Merah” yang diilhami oleh logo tersebut.

Rothschild diadopsi menjadi nama resmi perusahaan dan nama keluarga mereka. Kegiatan usaha mereka berlokasi di Judenstrasse, secara harfiah berarti “Jalan Yahudi” yang terlecak di tengah-tengah pemukiman ghetto Frankfurt yang didiami oleh sekitar 550 keluarga.

Mayer Amschel (Rothschild) lahir pada tahun 1743. Keluarganya secara turun-temurun bermukim di Frankfurt, Ada juga referensi dari Museum Inggris yang menyebutkan bahwa keluarga tersebut mulai bermukim di Frankfurt pada awal abad ke-16, dan pada abad ke-18 anggota kelompok tersebut sudah cukup banyak.

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia
Sebuah fakta yang mengejutkan, ayah dari Adolf Hitler adalah Alois Hitler yang merupakan anak dari Lionel Nathan Rothschild

Saya berhasil mengidentifikasi bahwa ada dua belas orang Yahudi Frankfurt yang menjadi nenek moyang Mayer Amschel. Mayer Amschel adalah anak tertua dari tiga bersaudara dan orang tuanya bekerja di bidang keuangan. Amschel telah mengenal bisnis finansial sejak usianya masih sepuluh tahun. Keluarga Amschel memilih untuk menjalankan usaha pertukaran valuta asing sebab pada masa itu Jerman terdiri dari 350 kerajaan kecil (princi-pality) dan setiap kerajaan memiliki mata uang sendiri. Selain itu, warga Yahudi Frankfurt juga dilarang untuk menjalankan jenis usaha lain yang sebenarnya diperbolehkan bagi para warga non-Yahudi.

Jadi, tak diragukan lagi bahwa pada masa itu hak kaum Yahudi teramat sangat dibatasi, bahkan beberapa jenis batasan yang diberikan kepada mereka sangat tidak adil. Keluarga tersebut mendiami sebuah rumah kayu berasitektur mock-Gothic. Rumah itu ditinggali oleh Mayer Amschel, ibu, ayah, dan tiga orang saudara laki-lakinya sejak tahun 1775, sebuah masa ketika wabah cacar merebak di benua Eropa dan merenggut nyawa kedua orang tua Mayer. Keluarga besar Mayer memutuskan untuk mendaftarkan Mayer ke sebuah sekolah para rabbi di Furth namun Mayer sama sekali tak tertarik untuk mempelajari ilmu keagamaan. Setelah tiga tahun menghabiskan masa hidupnya di Furth, Mayyer Amschel keluar dari sekolah itu atas permintaannya sendiri

Siapapun pasti merasa kagum akan keberanian yang dimiliki oleh pemuda itu untuk menentukan nasibnya sendiri. Amschel pindah ke Hanover dan memulai kariernya dengan bekerja secara “sukarela” sebagai buruh rendahan di bank yang bernama the House of Oppenheimer. Enam bulan kemudian ia diangkat sebagai tenaga magang di bank tersebut. Tak perlu waktu lama baginya untuk menyadari bahwa kesuksesan di dunia perbankan hanya akan diraihnya jika ia mampu mendapatkan perlindungan dari sang “pangeran” yang berkuasa di salah satu principality di Jerman itu. Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1770, ia meninggalkan Hanover dan kembali ke Frankfurt untuk menikahi Gudule Schnapper.

Mayer dan Gudule (Gutta) tinggal di sebuah ruangan yang terletak di atas toko tempat Mayer melakukan transaksi barang bekas dan baru dengan pelanggannya, sebuah kegiatan usaha yang juga pernah dilakukan oleh ayahnya. Beberapa jenis barang, seperti lukisan dan furnitur, ia pajang di etalase tokonya yang menghadap ke jalan raya. Di tempat inilah ia merintis pendirian “raksasa perbankan” yang kelak akan mampu mengendalikan keuangan dunia dan menaklukkan para pemimpin dunia, negarawan dan raja. Gudule melahirkan lima orang anak untuk Mayer. Mayer selalu melakukan diskusi bersama kelima orang anaknya di sebuah “meja kayu yang kusam”, begitulah cara Spiridovich mendeskripsikan sebuah meja yang biasa dipakai oleh anggota keluarga tersebut untuk berkumpul dan makan malam.

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia
Anak cucu keturunan dinasti Rothschild saat ini, (dari kiri) Baron Eric de Rothschild, Monsieur Phillipe Sereys de Rothschild, Baronne Phillipine de Rothschild, Baronne Ariane de Rothschild dan Baron Benjamin de Rothschild

Anak cucu keturunan dinasti Rothschild saat ini, (dari kiri) Baron Eric de Rothschild, Monsieur Phillipe Sereys de Rothschild, Baronne Phillipine de Rothschild, Baronne Ariane de Rothschild dan Baron Benjamin de Rothschild

Salah satu topik diskusi favorit keluarga ini adalah mengenai pembagian wilayah kekuasaan finansial dunia bagi kelima putra Rothschild. Di meja itu pulalah sang ayah sering bercerita tentang empat orang cucu iaki-laki Charlemagne sang Penguasa Romawi yang telah berhasil menaklukkan dunia dan berbagi visi hidupnya dengan kelima orang putranya. Kelima orang putrinya sama sekali tak pernah dilibatkan dalam diskusi tersebut. Karel yang Agung (Charlemagne) (771-814 M) berpenampilan seperti orang Jerman pada umumnya, tingginya sekitar enam kaki dan tubuhnya atletis. Ia memiliki kemampuan untuk berbicara dalam bahasa Yunani dan Latin. Ia adalah Raja Perancbis yang berhasil menjadi Penguasa Romawi pada tahun 800-814 SM. Meskipun sangat me-ngagumi Charlemagne, Mayer Amschel sangat membenci segala hal yang berbau “Romawi.” Di kemudian hari ia menyebut bangsa Romawi sebagai “musuh utama kaum Bolsevik”, sebagaimana dituturkan oleh Sir Alfred Mond dalam World Battle of the Jews. Samuel Gompers, dalam the Chicago Tribune edisi 1 Mei 1922 menulis sebuah artikel mengenai Bolshevisme yang sebenarnya ditujukan kepada Amschel:

Tidak ada lagi hal yang lebih rendah dan tercela dibandingkan pengakuan terhadap tirani kaum Bolshevik, segala bentuk kebijakan yang ditetapkan oleh para bankir Jerman dan Anglo-Amerika adalah usaha paling berbahaya yang pernah dilancarkan oleh kaum Bolshevik. Dana yang dimiliki oleh kaum Bolshevik ini berjumlah milyaran dolar.

Kebencian Mayer terhadap bangsa Romawi ini mungkin berakar dari fakta bahwa Frankfurt am Main adalah kota tempat dipilih dan dinobatkannya para Penguasa Tahta Suci Romawi, tahta yang diberikan oleh Gereja Katholik yang juga merupakan musuh utama kaum Bolshevik. Namun ada pula beberapa orang ahli sejarah yang mengatakan bahwa kebencian Amschel sesungguhnya dialamatkan kepada Rusia yang pada saat itu merupakan sebuah negara dengan jumlah pemeluk agama Kristen yang paling banyak di Eropa. Karena berbagai aturan yang diterapkan oleh para pemeluk agama Kristen pula lah bangsa Yahudi kehilangan begitu banyak hak hidup dan kesempatan kerja.

Sambil duduk mengelilingi meja tuanya, Amschel memperingatkan kelima orang putranya untuk menjaga harta kekayaan keluarga mereka dan tidak menikahi gadis yang berasal dari luar keluarganya. Amschel menjelaskan mengenai hukum “neshek” bangsa Yahudi. Kata ini sccara harfiah berarti “gigitan.”

“Gigitan” semacam ini hanya boleh dilakukan terhadap bangsa non-Yahudi, bukan terhadap bangsanya sendiri. Ia berpesan kepada kelima putranya untuk memegang teguh rahasia keluarga tersebut, tak ada satupun orang di luar keluarga tersebut yang boleh mengetahui berapa jumlah kekayaan keluarga mereka. Penulis buku The Rothschilds: Financial Rulers of Nations, John Reeves, mengutip perkataan MacGregor, pengarang buku The Kabbalah Unmasked yang mengatakan sebagai berikut:

Kelima putra Amschel memulai kegiatan usaha mereka di lima kota besar Eropa. Kelimanya saling menjaga hubungan baik dan bahu-membahu. Bisnis keluarga Rothschild  berkembang pesat sejak tahun 1812. Jalinan bisnis antar-anggota keluarga Rothschild kian hari kian solid. Semakin lama semakin mustahil untuk mengungkap berbagai rahasia kotor yang ada di balik kemajuan bisnis mereka. Kenyataannya, memang memperkaya diri mereka dengan cara ngacaubalaukan kondisl keamanan dunia. Mayer Amschel adalah seorang laki-laki yang memiliki nasib semujur Napoleon.

Dinasti Rothschild, Inilah Orang Paling Kaya di Dunia
Pohon silsilah keluarga Mayer Amschel Rothschild antara 1743-1812
  • Anselem Mayer, lahir tahun 1773 dan menikah dengan Eva Hannau.
  • Salomon Mayer, lahir tahun 1774 dan menikah dengan Caroline Stern.
  • Nathan Mayer, lahir tahun 1777 dan menikah dengan Hannah Levi Barnet Cohen pada tahun 1806.
  • Karl, lahir tahun 1788 dan menikah dengan Adelaide Herz.
  • Jacob (James), lahir tahun 1792 dan menikah dengan keponakannya Betty, putri dari Salomon, saudara kandungnya.
Anselem, putra tertua Amschel berhasil mendapatkan kehormatan untuk bergabung sebagai anggota Royal Prussian Privy Council of Commerce, Bavarian Consul, dan Court banker.
Penghormatan semacam itu terlihat biasa-biasa saja jika diperoleh pada saat ini, ketika perbedaan kelas sosial tak lagi dikenal. Beda halnya dengan Amschel di masa itu, yang berhasil mendapatkan penghormatan tersebut pada saat pemisahan kelas sosial diterapkan secara ketat dan tak ada sedikitpun kescmpatan bagi “rakyat jelata” untuk memegang posisi penting semacam itu. Posisi penting ini hanya boleh dipegang oleh anggota kaum bangsawan. Dan bangsa Yahudi pada masa tersebut dengan terang-terangan telah dikecualikan dari keanggotaan majelis tinggi semacam ini. Pengecualian itu juga berhasil didapatkan oleh Salomon Mayer. Salomon berhasil masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dan menjadi salah satu orang kepercayaan Pangeran Mettemich, sang penguasa bayangan Negara Austria.
Kelima putri Amschel sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjalankan kegiatan usaha keluarga mereka maupun untuk mendapatkan keuntungan darinya. Mereka semua benar-benar “disingkirkan”‘ dari dinasti keluarga Rothschild. Kebanyakan dari mereka dinikahkan melalui jalan “perjodohan” sebagaimana digambarkan oleh John Reeves:
Sepak terjang keluarga Rothschild diamati secara seksama oleh masyarakat sebagaimana sepak terjang para pejabat negara. Salah satu sumber mengatakan bahwa mustahil bagi kita untuk melacak nama seluruh anggota keluarga Rothschild sebab tidak ada satupun bukti fisik yang tersisa dari keberadaan mereka. (The Rothschild Financial Rulers).
Menjelang kematiannya, Mayer Amschel membaca sebaris isi Talmud dan meminta agar keturunannya bersumpah untuk terus memegang teguh persatuan keluarga dan tidak akan terpecah-belah satu sama lain. Informasi ini diperoleh dari Mayor Jenderal Count Arthur Cherep-Spiridovich, The Unrepealed History, dan beberapa buah artikel yang disimpan di the British Museum London.

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
(QS. AL BAQARAH AYAT : 96)

 

Semoga bermanfaat.

Sumber :

  • Coleman, John. 2014. The Rothschild Dynasty. Jakarta : Change Publication.