Fakta Mengerikan Dibalik Kematian Napoleon dan Rekening Revolusi Perancis

0
1949
Tokoh-tokoh yang melaksanakan tugas dari perkumpulan rahasia (secret society) untuk mendalangi revolusi Perancis dan antek-anteknya pada akhirnya diberangus oleh organisasi itu sendiri. Danton dan Robespierre dibantai dengan kejam untuk membungkam mereka. Organisasi tersebut membasmi mereka untuk mencegah bocornya informasi mengenai siapa saja tokoh yang ada di balik revolusi ini. Pembunuhan adalah jalan terbaik untuk membasmi siapapun yang menentang keinginan “Komite 300.”, sebagai sebuah kelompok elit terorganisir yang mengendalikan semua tingkat Pemerintahan Dunia.
Lord Acton menuliskan hasil pengamatannya dalam Essay on the French Revolution:

Yang membuat peristiwa ini mengerikan bukanlah huru-haranya, namun skenario yang ada di baliknya. Di balik kericuhan itu ada sebuah organisasi yang menjalankan peran sebagai penggeraknya. Para penggagas yang ada dalam organisasi itu menyamarkan dan menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapat. Namun keberadaan mereka memang tak dapat disangsikan lagi.


Napoleon adalah salah satu pelaku sejarah yang paling terkemuka dalam tiga dekade terakhir. Namun anehnya tak ada seorangpun yang tahu bagaimana cara pria ini mengubah nasibnya dari seorang pria biasa menjadi seorang tokoh terkemuka.
Sama halnya dengan “anak-anak angkat” Rotschild lainnya, Napoleon ditemukan dalam keadaan melarat oleh Talleyrand, seorang diplomat dan politisi Perancis pada saat itu. Talleyrand yang memperkenalkan pria muda itu kepada Rothschild. Ia tak punya uang untuk membayar laundry pakaiannya dan hanya ada satu pakaian saja yang ia miliki. Seragam yang dikenakannya ia peroleh dari Josephine Beauharnais, yang ia nikahi setelah Count Paul de Barras menceraikannya.
Count Talleyrand adalah menteri luar negeri Perancis di Jaman Kekaisaran Napoleon. Ia adalah seorang diplomat yang hebat, dan telah mengabdi sebagai diplomat, dari jaman revolusi Perancis (1789),  sampai jaman Raja Louis Phillipe (1830).
Pada tahun 1786 Napoleon menjabat sebagai seorang pembantu letnan, petugas militer junior yang tak punya uang sedikitpun. Ia berkeliling mencari pekerjaan tambahan untuk menopang hidupnya, padahal di masa itu masyarakat Eropa sudah cukup bosan mendengar slogan “Kemerdekaan, Kesamaan, dan Kekeluargaan.” Amschel (Rothschild) kecewa dengan kinerja Weishaupt (pendiri illuminati) untuk memberangus gereja, terutama gereja-gereja Katholik, dan sedang mencari “bakat baru”. Semangat pria Corsica ini berhasil memikat hati Amschel dan sebagai imbalannya Amschel memberinya uang untuk hidup layak. 
Mayer Amschel Rothschild, Penwaris the House of Rothschild yang didirikan Mayer Anselm Bauer (Rothschild).
H. Fischer, dalam sebuah artikel yang berhasil saya temukan di Museum Inggris menuliskan: “Pada tahun 1790 Napoleon berhasil dengan cara licik mendapatkan posisi sebagai orang kedua dalam batalyon Kerajaan.”
Bagaimana ia bisa melakukannya? Charles MacFarlane dalam tulisannya The Life of Napoleon (yang ditemukan di Museum Inggris) memberikan petunjuk mengenai cara Napoleon “mendaki singgasana kekuasaan”.

Augustine Robespierre, putra paling bungsu dari sang Diktator yang keji, mengenail Napoleon pada saat penaklukan Toulon pada tahun 1798. Fakta yang tak terbantahkan adalah hubungan kedua tokoh itu semakin erat dan akrab. Napoleon bersahabat dengan Augustine yang sama kejamnya dengan kakak sulungnya.


Menurut autobiografi yang ditulis oleh Wolf Tone (Barry 1893) Robespierre adalah anggota Illuminati.
Sebagai mantan pemeluk agama Kristen, Napoleon mengendus kebencian Amschel terhadap agama Kristen. Iapun memulai peran barunya unuk menyenangkan hati penyandang dananya. Ia berbalik menentang Gereja Katholik. Pelecehan terhadap Sri Paus adalah hal yang sangat disukai oleh Amschel dan atas tindakannya itu, Amschel menghadiahinya dengan pundi-pundi uang yang kian hari kian bertambah jumlahnya.
Jadi kini kita telah benar-benar paham mengenai “perjalanan karier luar biasa” dan “kesuksesan” yang diraih oleh Napoleon. Dalam istilah sehari-hari kita dapat mengatakan bahwa para pengarang cerita dan penults biografi Napoleon tak berhasil mengendus jejak kejayaan Napoleon ini.
Kegagalan Weishaupt untuk memusnahkan gereja Katholik mengecewakan Amschel. Dan pada saat Napoleon dibawa sebagai penggantinya, perhatian Amschel langsung tertuju kepadanya. Ia mendapatkan pengarahan mengenai hal apa saja yang harus dilakukannya dari Talleyrand. Ia sering mengadakan pertemuan dengan Talleyrand di loji kaum mason yang didirikan di Paris dan mendatangi Amschel di Frankfurt.
Talleyrandlah yang mengatakan kepada Napoleon bahwa perang adalah satu-satunya cara untuk menghancur-kangereja Kathoiik, Fakta ini diamini oleh H.G. Wells yang menyebut pria jenius dari Corsica ini dengan panggilan “sang penghancur.” Ia adalah pria yang tegas, kompeten, serta memiliki keahlian dan gagasan yang hebat. Sayang-nya Wells tidak mengetahui bahwa kesuksesan Napoleon disokong oleh beberapa orang penyandang dana. Tanpa dana dari sang penyokong setia kepiawaian Napoleon itu tak akan pernah terasah.
Sama halnya dengan Kerensky, Trotsky, Disraeli, Lloyd George, dan Bismarck; Amschel mengadopsi Napoleon saat ia tak memiliki kedudukan apapun. Amschellah yang memolesnya hingga ia berhasil menjadi salah satu pria yang paling disegani di benua Eropa. H. G. Wells memprotes tindakan Napoleon yang tak lagi melanjutkan revolusi. Namun kita tak akan membahas mengenai hal ini. Amschel merancang agar Napoleon terpilih sebagai First Consul seumur hidup dengan selisih perolehan suara yang sangat besar dari para pesaingnya. Dan itu adalah awal bagi Napoleon untuk memasuki percaturan politik Eropa.
Selama Napoleon mematuhi perintah Rothschild untuk menghancurkan kerajaan dan gereja-gereja Katholik, kesuksesan akan senantiasa mengiringi langkahnya. Saya menemukan sebuah buku bagus koleksi the British Museum yang ditulis oleh Sydney Dark. Buku yang berjudul How Great Was Napoleon ini mengisahkan hal berikut ini:

Napoleon yang terlahir tanpa harta kekayaan dan status sosial menobatkan dirinya sebagai penguasa dunia pada saat ia berusia 35 tahun dan mengakhiri kariernya dengan mengenaskan pada saat ia berusia 46 tahun.

Buku ini benar-benar mengacuhkan kekuatan besar yang bermain di balik kesuksesan Napoleon, kekuatan Amschel dan pundi-pundi uang serta penasehatnya yang bermukim di loji-loji kaum Mason yang tersebar di Paris dan Frankfurt. Pada tanggal 9 Maret 1796, Napoleon menikahi Josephina de Beauharnais. Wanita ini pernah membuatkan baju seragam untuknya. Pernikahan antara Napoleon dan Josephina telah diatur oleh Rothschild melalui perantaranya Count Paul de Barras yang pernah menunjuk Napoleon untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala Angkatan Darat Italia.
Josephina adalah mantan istri de Barras. Karena merasa jenuh dengan perilakunya, ia memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan wanita itu. Untuk mencegah agar wanita itu tak menaruh dendam kepadanya, Count de Barras menjodohkannya dengan Napoleon. Itu adalah awal romansa yang dikisahkan oleh para penulis riwayat hidup Napoleon.
Josephine membantu de Barras dengan cara membocorkan rahasia yang diceritakan suaminya kepadanya. Rahasia ini selanjutnya dilaporkan kepada keluarga Rothschild. Amschel tak begitu peduli akan penobatan Napoleon yang dilakukan pada tahun 1804. Meskipun demikian, Amschel sangat kaget saat mengetahui bahwa Sri Paus juga diundang dalam penobatan tersebut. Keluarga Rothschild bertambah gusar dan murka ketika Napoleon menceraikan Josephine dan menikahi Arch-Duchess Maria Louisa pada tahun 1810. Seketika Rothschild menyadari bahwa kesempatan mereka untuk memberangus kerajaan-kerajaan dan gereja-gereja Katholik semakin menipis.
Pada tahun 1810 nasib Napoleon diputuskan dan James Rothschild diberi tugas untuk memusnahkan mantan pahlawan keluarga mereka itu. Perlahan-lahan Napoleon menyadari bahwa ia tak pernah berperang untuk Perancis, ia hanya dimanfaatkan oleh kekuatan asing yang makin lama makin kuat mencengkeram negerinya. Ia menyadari bahwa ia hanya dimanfaatkan oleh kaum mason dan Illuminati sepanjang perjalanan kariernya. Proses penyadaran ini sangatlah lamban dan menyakitkan, namun setelah Napoleon sepenuhnya menyadari kesalahannya, ia mulai melancarkan pemberontakan terhadap orang yang mengendalikannya. Dalam bukunya History of Napoleon, G. Bussey menyebutkan bahwa Napoleon berubah dan mulai kehilangan gairahnya untuk berperang. Ia menyebutkan kalimat ini:  “Terima kasih Tuhan akhirnya aku bisa berdamai dengan dunia”
Keluarga Rothschild kini tak bisa memanfaatkan bonekanya lagi. Merekapun mendirikan dan membiayai pembentukan sebuah badan bernama Liga Anti Napoleon (A Legue against Napoleon). Para mentor yang dulu membantu perjuangan Napoleon kini berbalik melawannya. Karl Rothschild segera merancang strategi untuk memperkeruh hubungan antara Napoleon dan Sri Paus. Tanpa sepengetahuan Napoleon ia menginstruksikan kepada Jenderal Radet untuk melakukan penculikan terhadap Sang Paus. Pauspun bereaksi dengan mengeluarkan Nota Pemutusan Komunikasi (Excommunication Bill) untuk sang Kaisar.
Dinasti Rothschild, keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan dan kekayaan miliaran dolar yang fantastis,
(1) Jacob Rothschild James (2) Lionel Rothschild (3) Salomon, Nathan dan Karl Rothschild
Napoleon berusaha memperbaiki hubungannya dengan Paus. Bencana menyerangnya secara bertubi-tubi. Stapps, salah satu agen Illuminati, berusaha untuk membunuhnya. Percobaan pembunuhan atas dirinya itu berhasil digagalkan berkat kepiawaian Jenderal Rapp.
Perang melawan Rusia menemui kendala yang berupa kekurangan pasokan makanan dan kelaparan. Napoleon tak menyadari bahwa suplai makanan untuk pasukannya telah disabotase. Ia dipaksa untuk menarik pasukannya dari Moskow. Beratus-ratus anggota pasukannya meninggal karena cedera dan hempasan udara dingin. Agen-agen Rothschild ikut-ikutan menembak mati anggota pasukan yang tersisa.
Korban yang berjatuhan di pihak Kristen tak kalah banyaknya. Napoleon telah gagal merebut kembali simpati dari Paus. Ketika kepercayaan dirinya mulai sirna, ia menulis pesan ini:

Seharusnya saya bisa merebut simpati dari Paus dan dukungan dari Paus akan memperkuat Kekaisaran yang saya dirikan. Seharusnya saya lebih banyak berdiskusi dengan kaum rohaniwan dan para wakil rakyat. Dewan perwakilan kekaisaran saya seharusnya diduduki oleh lebih banyak lagi umat Kristiani, dan sang pewaris tahta suci St. Peter seharusnya saya tunjuk untuk mengepalai dewan tersebut.

Namun terlambat bagi Napoleon. Karl Rothschild telah memprediksikan bahwa penyerangan tersebut akan menemui kegagalan. Tak ada satupun ahli sejarah yang tahu alasan apa yang memicu Napoleon untuk menyerang Moskow pada tahun 1812. Banyak sekali teori yang telah dikemukakan namun tak satupun yang dapat dibuktikan. Alexander I mengomentari penyerangan ini: “Napoleon tiba-tiba menabuh genderang perang terhadap pasukan saya. Ia telah mengkhianati kepercayaan saya dengan cara yang paling tak beradab.” Mengenai hal ini, Napoleon pernah bercerita kepada Jenderal Gourgaud:

Saya tidak ingin berperang dengan Rusia. Bassano dan Champagny (Menteri Luar Negeri Napoleon) telah menghasut saya dengan mengatakan bahwa Rusia menerbitkan sebuah nota yang berisi peryataan perang terhadap kekaisaran Perancis. Jadi saya benar-benar menduga bahwa Rusia akan segera memulai peperangan. Sebenamya alasan apa yang memicu penyerangan terhadap Rusia? Saya benar-benar tak mengerti. Mungkin Sang Kaisar sendiripun tidak lebih tahu dibandingkan saya.

Keluarga Rothschild menghabisi Napoleon dalam Perang Waterloo. Napoleon dikhianati oleh Marshal Souk, mantan sahabatnya yang mengkhianatinya karena pundi-pundi uang yang ditawarkan oleh keluarga Rothschild. Padahal Napoleon telah menobatkan Soult sebagai the Duke of Dalmatia, memberinya gaji berjuta-juta franc, dan menunjuknya sebagai Panglima perangnya. Dalam perang Waterloo, Soult gagal mempertahankan Gemappe sebuah desa penting yang menjadi pusat kekuatan
tentara Napoleon. Lebih gawat lagi, Marshal Grouchy yang bertugas memimpin pasukan bantuan justru datang 24 jam lebih lambat padahal pasukannya itu mengetahui bahwa asap mesiu telah membubung ke udara dan peperangan telah dimulai. Napoleon berkomentar pahit tentang SouLT:

Soult, tangan kanan yang paling kupercaya dalam perang Waterloo, tidak melaksanakan tugasnya sebagaimana yang kuharapkan… Anak buahnya tak menghiraukan perintah yang kuberikan… Soult adalah seorang pengecut.. .Soult adalah seoramg manusia tak berguna. Mengapa dalam perang itu ia tidak menyampaikan perintahku kepada Gemappe?

Battle of Waterloo adalah salah satu perang terbesar di dunia yang hanya berlangsung 1 hari. Ratusan ribu orang saling serang. Kejadiannya pada 18 Juni 1815, di Waterloo, sekarang bagian dari negara Belgia. Perang ini melibatkan hampir seluruh kekuatan perang seantero Eropa, dari Inggris di Barat, Russia di utara, Turki (dulu namanya masih Ottoman Empire) di Timur, semuanya bentrok di Waterloo. Perang dalam skala lebih besar tersebar dimana-mana sampai ke Afrika dan Asia.
Lebih gawatnya lagi, pada keesokan hari setelah peperangan itu seorang musuh yang menyamar sebagai staf pasukan Corsica memasukkan zat tertentu dalam sarap-annya. Napoleon terserang migrain yang hebat karena pengaruh zat itu. Sebenarnya keluarga Rothschildlah yang telah menghabisi Napoleon. Namun untuk menutupi keberadaan keluarga tersebut, dikatakan bahwa Blucher dan Wellington yang telah membunuh Napoleon. Soult telah melayani tuannya dengan baik dan sebagai imbalannya ia berhak untuk menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan Perancis. 
Banyak orang yang mengatakan bahwa Soult adalah ayah Bismarck, namun tak ada satu pun bukti yang dapat mendukung pernyataan itu. Ibu kandung Bismarck pernah menikah dengan Soult, sebagaimana pernah dikisahkan oleh Bismarck: bukan bakat atau kemampuanku yang membuatku terlibat hebat. Fakta bahwa ibuku adalah mantan istri Soultlah (salah satu anggota Komite 300) yang membantu perjalanan karierku.
Bismarck “diorbitkan” oleh keluarga Rothschild dengan bantuan keluarga Menken. Ayahnya, William, menikah dengan Louise Menken, yang menurut Count Cherep-Spiridovich adalah seorang wanita keturunan Yahudi. Marshall Soult yang mengkhianati Napoleon dalam peristiwa Waterloo adalah salah seorang anggota Komite 300 yang memiliki jabatan tinggi dalam peme-rintahan Perancis hingga akhir hayatnya.
Soult sering bertandang ke kediaman William Bismarck dan ia dipercaya sebagai ayah kandung salah anak bungsu keluarga Bismarck. Hubungan antara Soult dan ibu Bismarck inilah yang menyebabkan si kecil Bismarck diadopsi oleh James Rothschild. Pada tahun 1833 Bismarck menghadapi sebuah masalah dan terancam kehilangan semua harta yang dimilikinya. James Rothschild menjalin persahabatan dengan si kecil Bismarck dengan bantuan Disraeli. James mempersiapkan Bismarck untuk menjadi pemimpin konservatif Eropa di kemudian hari. Oscar Arnim, salah satu anggota Reichstag menikah dengan saudari kandung Bismarck, Malian.
Setelah pernikahan tersebut dilangsungkan, Bismarck langsung diawasi sepenuhnya oleh Lionel Rothschild. Bismarck menyadari hal ini dan mengungkapkannya dalam sebuah kalimat yang dikutip dalam tulisan Walter Rathenau yang dipublikasikan pada tahun 1871:
Siapapun akan menganggap Bismarck sebagai seorang politisi jenius, seorang pria yang bernasib sama dengan Napoleon. Hidup Napoleon berakhir dengan tragis. Dan Bismarck mengulangi kisah tragis Napoleon, la tak percaya pada segala bentuk takdir baik, sebab menurut keyakinannya para poltisi terkemuka harus berkorban demi popularitas mereka. Para politisi itu harus mempersiapkan diri terhadap segala bentuk hal buruk yang bahkan mereka sendiripun tidak mampu untuk memperkitakannya.
Sumber :
  • Coleman, John. 2014. The Rothschild Dynasty. Jakarta : Change Publication.
  • http://antimatrix.org/Convert/Books/Coleman/Rothschild_Dynasty/Rothschild_Dynasty.htm
  • http://gustint.blogspot.com
  • http://www.kaskus.co.id