Fakta Mengejutkan Dibalik Revolusi Bolshevik di Russia

0
5111

Dibalik setiap revolusi ada sebuah kekuatan luar biasa yang memicu sekaligus mengendalikan laju revolusi di setiap tingkatan, baik Revolusi Prancis maupun Bolshevik di Russia. Jika Revolusi Prancis dan Turki dikendalikan oleh klan keluarga Rothschild, maka Revolusi Bolshevik tak lain ialah klan Rockefeller. Mereka adalah keluarga elit kaya raya dan serakah yang sangat berambisi dalam menciptakan pemerintahan satu dunia yang totalitarian (New World Order), keluarga inilah yang mendalangi berbagai revolusi, perang, dan pemberontakan, serta mengubah konstelasi politik Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat untuk selamanya. Baik keluarga Rothschild maupun Rockefeller memiliki darah keturunan Yahudi, sebuah fakta yang tak pernah sekalipun mereka sembunyikan.

Saya pernah menulis tentang asal usul dibalik terbentuknya ideologi komunis yang merupakan rekacipta Yahudi belaka dengan berbagai fakta, kalian bisa melihat dalam artikel saya yang berujul Komunisme : Ideologi Sesat Okultisme yang Jarang Diketahui Publik.

“Komunisme adalah rekacipta Yahudi belaka.”
Sir Winston Churchill, London Illustrated Herald (8 Februari 1920)

Banyak penulis biografi yang telah menceritakan kekayaan menakjubkan serta kekuatan ekonomi dan politik keluarga Rockefeller (kapitalis politik internasional) yang tak terbatas, tetapi hanya sebagian kecil yang menceritakan tentang aspek paling mengagumkan dari keluarga tersebut, yaitu hubungannya selama beberapa generasi dengan pihak yang seharusnya menjadi musuh keluarga tersebut, yaitu Komunis (sosialis revolusioner international). Tidak ada misteri yang dapat menyamai misteri gerakan Komunis dunia dan jatidiri para pendukung utamanya yang ternyata adalah kaum kapitalis itu sendiri.

Revolusi Bolshevik di Rusia jelas merupakan salah satu perubahan besar dalam sejarah. Revolusi ini adalah sebuah peristiwa yang menyebabkan banyak sekali salah informasi. Para pembuat mitos dan penulis ulang sejarah telah melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Saat ini, sebagian besar orang percaya bahwa Komunis berhasil di Rusia karena mereka bisa mendapatkan dukungan dari para petani yang muak dengan tirani Tsar. Namun, bukan itu yang terjadi.

Sebuah pawai yang mendukung Revolusi Bolshevik
Meskipun sebagian orang mengetahui bahwa Revolusi Bolshevik terjadi pada November 1917, tetapi hanya sebagian kecil orang yang ingat bahwa Tsar sebenarnya turun takhta tujuh bulan sebelumnya. Dengan runtuhnya monarki Tsar Nicholas II, pemerintahan sementara didirikan oleh Pangeran Lvov, yang ingin mendirikan pemerintah Rusia baru dengan mencontoh Republik Amerika. Namun, sayangnya, Lvov digulingkan dan digantikan oléh Alexander Kerensky yang mengaku dirinya Marxis dan penentang kelompok Bolshevik.
Pada saat Tsar turun takhta dan selama beberapa bulan berikutnya, para pemimpin utama Revolusi Bolshevik, yaitu Lenin dan Trotsky, bahkan tidak berada di Rusia. Lenin berada di Swiss dan telah hidup dalam pengasingan sejak 1905. Trotsky juga sedang dalam pengasingan, dengan bekerja sebagai wartawan untuk sebuah surat kabar Komunis, percayakah anda di mana? di kota “New York”.1

Vladimir Lenin, pemimpin Revolusi Bolshevik
Trotsky  diperbolehkan  pulang  ke  Rusia  dengan menggunakan paspor Amerika, sedangkan Lenin diam-diam melintasi Eropa menggunakan sealed train yang terkenal. Mereka bergabung pada bulan November saat itu dengan menggunakan penyuapan, kelihaian, kekejaman, dan penipuan. Kelompok Bolshevik berkuasa bukan karena rakyat Rusia yang miskin memanggil mereka pulang, tetapi karena para tokoh paling berpengaruh di Eropa dan Amerika Serikat, termasuk para anggota keluarga Rockefeller, menyuruh mereka pulang.

Namun, meskipun berbagai fakta ini entah bagaimana telah disembunyikan, rahasia terbesarnya adalah, di sepanjang periode tersebut pembiayaan untuk revolusi berasal dari para kapitalis kaya di Barat, dan khususnya dari Amerika Serikat.

Sebuah buku yang membahas dengan sangat teliti mengenai masalah ini telah ditulis oleh Antony Sutton yang merupakan peneliti untuk Hoover Institution for War, Revolution and Peace yang bergengsi di Stanford University. Buku berjudul Wall Street And The Bolshevik Revolution yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang dihormati dan sangat kritis ini dibaca oleh hampir seluruh orang di dunia.

Antony C. Sutton, peneliti untuk Hoover Institution for War, Revolution and Peace
yang bergengsi di Stanford University.

Nampaknya, latar belakang pembagunan Negara Komunis di berbagai negara diabaikan oleh media massa. Seseorang tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui alasannya. Sutton mengungkap tahap Revolusi Bolshevik dengan latar belakang ini:

“Meskipun memonopoli industri pernah menjadi tujuan dari J.P. Morgan dan J.D. Rockefeller, pada akhir abad kesembilan belas orang dalam Wall Street memahami bahwa cara paling efisien untuk mendapatkan monopoli yang tak terkalahkan adalah dengan menggunakan geopolitik dan membuat masyarakat bekerja untuk para pelaku monopoli atas nama kebaikan dan kepentingan masyarakat. Strategi ini dijelaskan dengan rinci pada 1906 oleh Frederick C. Howe dalam bukunya yang berjudul Confessions of a Monopolist. Omong-omong, Howe juga tokoh penting dalam kisah Revolusi Bolshevik.”2

Dalam bukunya, Howe menuliskan:

“Inilah aturan dari bisnis besar. Aturan ini menggantikan ajaran orangtua kita dan dapat disingkat menjadi sebuah aturan sederhana, yaitu Dapatkanlah monopoli, biarkan Masyarakat bekerja untuk Anda, dan ingatlah bahwa bisnis yang terbaik adalah politik, karena izin legislatif, waralaba, subsidi atau penghapusan pajak jauh lebih berharga dibandingkan berlian dan perak, karena tidak memerlukan usaha, baik rohani maupun jasmani, saat digunakan.”3

Sutton menyampaikan alasan mengapa orang kaya seperti keluarga Rockefeller mau bekerjasama dan bahkan membiayai Komunis yang diduga bersumpah akan menghancurkan keluarga tersebut.

Cendekiawan kelahiran Inggris tersebut menuliskan:
“…salah satu penghalang untuk memahami secara mendalam sejarah terkini adalah pernyataan bahwa semua kapitalis adalah musuh paling sengit dan teguh dari semua Marxis dan Sosialis. Pendapat yang salah ini berasal dari Karl Marx dan tak diragukan lagi berguna bagi tujuannya. Sebenarnya, pendapat tersebut omong kosong. Selama ini ada aliansi yang berkesinambungan, meskipun tersembunyi, antara para kapitalis politik internasional dan para sosialis revolusioner internasional yang saling menguntungkan.”4


Dari Sutton kita dapat mengetahui nama para tokoh rahasia yang membiayai konspirasi di Rusia. Kita tahu bahwa revolusi tidak akan dapat berhasil tanpa organisasi dan uang. Rakyat yang miskin biasanya hanya menyediakan sedikit organisasi dan tidak menyediakan uang sama sekali. Namun, Keluarga Rockefeller dan para pengikutnya dapat menyediakan keduanya. Dalam buku The Surrender of An Empire, sejarawan Inggris yang hebat Nesta Webster menuliskan:

“Seandainya kelompok Bolshevik, begitulah mereka sering digambarkan, hanyalah kelompok revolusioner yang ingin menghancurkan harta kekayaan, pertama di Rusia, dan kemudian di setiap negara lain, maka umumnya mereka akan mendapati diri mereka mendapatkan perlawanan terorganisir dari para pemilik harta kekayaan di seluruh dunia, dan Moskow akan dengan cepat hancur. Kelompok minoritas ini dapat merebut kekuasaan dan, setelah berkuasa, mempertahankan kekuasaan mereka hingga saat ini, karena berutang pada beberapa pengaruh kuat di belakang mereka.”5

Sutton menyampaikan bukti “pengaruh kuat” di belakang Komunis dengan menuliskan:

“Singkatnya, ini adalah kisah tentang Revolusi Bolshevik dan akibatnya, tetapi sebuah kisah yang menyimpang dari pendekatan konseptual terbatas dari Kapitalis melawan Komunis. Kisah kita menceritakan sebuah hubungan kerja sama antara kapitalisme monopoli internasional dan sosialisme revolusioner internasional yang saling menguntungkan. Korban manusia dari aliansi ini jatuh di pundak rakyat Rusia dan rakyat Amerika. Bisnis dicemarkan nama baiknya dan dunia didorong menuju perencanaan sosialis yang tidak efisien sebagai akibat dari berbagai manuver monopoli dalam dunia politik dan revolusi…”6

Jadi, selama kita menganggap semua revolusioner internasional dan semua kapitalis internasional saling bermusuhan satu sama lain, maka kita akan ketinggalan poin pentingnya yaitu memang terjadi kerja sama antara kapitalis internasional, termasuk fasis.

Monster Komunis di Russia Stalin, Lenin, dan Trotsky (1919) mendapatkan kekuasaan dengan dukungan dana dari Rothschild, Rockefeller, dan rekan Yahudi mereka. Lihat artikel saya tentang Komunisme untuk mengetahui silsilah keturunan Yahudi mereka.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa lembaga perbankan internasional, terutama kepentingan Morgan dan Rockefeller, membiayai pengambilalihan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok Bolshevik, sangatlah banyak. Ribuan fakta dan dokumen yang disebutkan oleh Sutton jumlahnya terlalu banyak bahkan untuk diringkas dalam artikel ini. Bagi kalian yang tertarik mengetahui kisah lengkap dari “Membangun Negara Komunis Besar,” saya sangat menyarankan agar Anda membaca buku Sutton yang berjudul Wall Street And The Bolshevik Revolution dan Waron Gold atau The Rise of Hitler.

Semoga bermanfaat 🙂

Sumber :
____________________________________
  1. Garry Allen. The Rockefeller Files. Phoenix Publishing Project, Jakarta, 2013, hlm. 174
  2. Ibid, hlm. 176
  3. Ibid, hlm. 176
  4. Ibid, hlm. 176
  5. Ibid, hlm. 177
  6. Ibid, hlm. 177

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here