Hitler Mati di Indonesia? Inilah Analisa dan Kesimpulannya

1
2516
Dari sekian banyak informasi yang ada tentang kematian Hitler, tidak ada satupun yang dapat menyebutkan secara pasti apa penyebab kematian sang diktator Nazi ini.
Versi yang paling populer mengenai kematian Hitler menyebutkan bahwa ia tewas bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri dan minum racun sianida pada 30 April 1945, saat Jerman diduduki oleh Uni Soviet. Meski sejumlah ahli sejarah ragu Hitler menembak dirinya, dan menduga hal itu hanyalah propaganda Nazi untuk menjadikan Hitler sebagai pahlawan. Lubang pada potongan tengkorak itu tampak menguatkan argumen tersebut ketika tengkoraknya dipamerkan di Moskow tahun 2000. Namun, setelah diteliti oleh para ilmuan melalui pengujian dari fragmen tengkorak dan DNA-nya, tengkorak ini bukanlah milik Hitler melainkan seorang perempuan.
Gambar yang di duga tengkorak Adolf Hitler, dipamerkan di Moskow tahun 2000.
Bagaimana dan kapan Hitler meninggal sekarang ini masih diselimuti misteri.
Hitler mati di Indonesia?
Banyak beredar kabar bahwa Hitler yang terkenal sangat bengis di abad ke 20, bersembunyi di Indonesia sejak tahun 1954 sampai dengan tahun 1970. Pada tahun 1954 Adolf Hitler masuk ke Indonesia dengan menggunakan nama palsu, Dr. Poch.
Pada awalnya Dr. Poch tinggal di Dompu lalu pindah ke Bima, selanjutnya pindah ke Kabupaten Sumbawa Besar, kemudian bekerja menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sumbawa Besar. Seluruh penduduk pulau Sumbawa kenal dengan dokter ini, yang di panggil dengan julukan “dokter Jerman”.
Kemudian Hitler bertemu dengan seorang gadis bernama Sulaesih yang sedang menggembara ke Sumbawa Besar, yang akhirnya dilamar oleh Hitler.
Tidak lama setelah Dr. Poch melamar Sulaesih, beliau memeluk agama Islam pada tahun 1964, yang disaksikan oleh Ketua Kantor Agama di Sumbawa, (tapi sayang Sulaesih lupa namanya) dan mengganti namanya menjadi Abdul Kohar. Pada tahun 1965 Dr. Poch pun menikahinya.
Inilah foto Dr. Poch dan Nyonya Sulaesih yang duduk di kursi. Sementara di belakang mereka berdiri tiga lelaki muda. Menjelang pernikahan itulah, dikatakan Dr. Poch menjadi seorang Muslim. Dr Poch kemudian mengganti namanya dengan nama Abdul Kohar. Mereka kemudian pindah ke Surabaya.
Sebelumnya, di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983 terdapat sebuah artikel tentang Hitler. Penulisnya bernama Dr. Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.
Dr. Sosrohusodo menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut. Orang itu diduga Hitler.
Namun yang menjadi pertanyaan benarkah Dr. Poch yang diisukan tersebut adalah Hitler? Bagaimana kita bisa menilai kebenaran klaim ini? 
Untuk mengujinya mari kita analisa dari foto Dr. Poch yang beredar dengan foto Hitler.
Analisa apakah dokter Poch adalah Hitler melalui foto 

Cara yang paling gampang adalah membandingkan foto Hitler dengan foto Dr. Poch. Dan jika kita beruntung, kita bisa mematahkan atau membenarkan klaim Dr.Sosrohusodo.
Untuk awalnya, ini dia foto Dr. Poch yang diklaim sebagai Hitler bersama Istrinya yang berasal dari Indonesia.
Sedangkan foto berikut adalah Hitler sendiri.
Setelah melihat foto tersebut, mungkin kalian akan segera yakin kalau Dr. Poch bukanlah Hitler karena postur dan wajah yang tidak mirip. Satu-satunya kesamaan mungkin hanya kumisnya. Tapi tunggu dulu, postur tubuh dan wajah seseorang bisa berubah seiring pertambahan usia atau seiring berkurang dan bertambahnya berat badan. Argumen seperti itu tidak bisa dipakai.
Kalau begitu argumen apa yang akan kita pakai?
Seperti yang saya katakan di atas, jika kita beruntung, maka kita bisa mengambil kesimpulan yang konkrit dari perbandingan foto ini. Dan saya rasa, kita beruntung kali ini. 
Pada awalnya, saya begitu takjub dengan kesamaan wajah antara Dr. Poch dengan Hitler sehingga saya hampir yakin kalau keduanya adalah orang yang sama. Jika kalian tidak percaya, lihatlah foto Hitler berikut ketika ia masih muda dan kurus, lalu bandingkan dengan foto Dr. Poch.
Hitler adalah pria di sebelah kanan yang berkumis tebal. Bukankah wajahnya sangat mirip dengan Dr. Poch?
Namun kemudian, saya menyadari satu hal. Ada perbedaan mendasar yang kemudian membuat saya meragukan kalau keduanya adalah orang yang sama.
Bentuk tubuh dan bahkan bentuk wajah bisa berubah jika kita bertambah tua, bertambah kurus atau bertambah gemuk, Tapi ada satu yang tidak akan berubah.Yaitu Lobule telinga atau Earlobe.

Dr. Poch dan Hitler memiliki Earlobe yang berbeda. 
Walaupun manusia memiliki banyak rupa daun telinga, namun untuk Earlobe, biasanya para ahli anatomi hanya membaginya menjadi dua bagian besar. Yaitu Free Earlobe dan Attached Earlobe. 
Hitler memiliki Free Earlobe sedangkan Dr. Poch memiliki Attached Earlobe. 
Attached Earlobe artinya ujung daun telinga langsung menyatu dengan sisi wajah kita. Sedangkan Free Earlobe, ujung daun telinga melengkung, menyisakan satu bagian yang “bebas”.
Sekarang bandingkan Earlobe Hitler dan Dr. Poch.
Ini perbandingan satu lagi yang lebih jelas karena Dr. Poch terpotret dari samping. 

Apakah kalian bisa melihat perbedaannya sekarang?
Bahkan kalian bisa melihat kalau bentuk daun telinga kedua orang tersebut berbeda. Hal ini pun terlihat jelas ketika kita membandingkan foto Poch dengan Hitler yang masih kurus.
Artinya cuma satu, Dr. Poch bukan Hitler. 
Lalu, mungkin di antara kalian ada yang bertanya: “Apakah earlobe dapat berubah seiring bertambahnya usia?”
Jawabannya bisa. Namun justru dalam kasus Hitler Poch ini malah memperkuat dugaan kalau keduanya adalah orang berbeda.
Perubahan pada earlobe terjadi ketika kita bertambah tua. Ketika usia kita bertambah, terjadi pengurangan produksi kolagen di dalam tubuh sehingga elastisitas kulit berkurang. Akibatnya earlobe manusia akan menjadi bertambah kendur. Namun tidak pernah ada kasus Earlobe seseorang berubah dari Attached menjadi Free atau sebaliknya.
Jika Hitler bertambah tua, maka Free Earlobe yang dimilikinya JUSTRU akan bertambah kendur sehingga lengkungannya terlihat semakin jelas. Hal ini tidak bisa kita temukan pada telinga Dr. Poch.  
Kalian bisa melihat perubahan kekenduran earlobe pada aktor Man in Black, Tommy Lee Jones berikut ini. Bagian yang “bebas” dari earlobenya terlihat semakin “besar”.
Berikut foto Obama sewaktu kecil dan dewasa. Ia memiliki Free Earlobe dan tidak berubah ketika ia dewasa.
Atau Jimmy Carter, mantan presiden Amerika Serikat. Ia memiliki memiliki Attached earlobe dan tetap demikian adanya ketika ia berusia lanjut.
Jadi, dengan metode yang sederhana ini, kita bisa menemukan sebuah lubang besar dalam klaim Dr.Sosrohusodo. 
Kesimpulan
Nah, sekarang, bagian terpenting dari postingan ini yaitu: “Apakah Hitler benar-benar mati di Indonesia?”
Jawabannya: “Saya tidak tahu. Tapi yang saya pastikan adalah Dr. Poch bukan Hitler.”
Semoga bermanfaat 🙂
Artikel ini saya review dari indocropcircles dan xfile-enigma, yang cukup terkenal dalam menganalisa misteri-misteri belum terungkap yang ada di seluruh dunia. 
Sumber :
https://indocropcircles.wordpress.com
http://xfile-enigma.blogspot.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here