Adakah Peluang Kehidupan di Luar Bumi? Inilah Penjelasannya

0
478

Adakah kehidupan di luar Bumi? Pertanyaan ini mungkin masih dilontarkan kebanyakan orang awam dan menjadi misteri yang belum terungkap bagi sebagian kalangan tersebut. Namun, jika kita ingin mencari tau probabilitas (peluang) terciptanya alam semesta sampai terbentuknya Bumi yang merupakan satu-satunya planet di tata surya bahkan di alam semesta yang memungkinkan adanya kehidupan, maka kita akan takjub bahwa bertapa unik dan kompleksnya keseimbangan alam semesta hanya untuk meniciptakan sebuah planet biru kita ini, sebagaimana halnya pembentukan sidik jari dan wajah miliaran manusia yang tidak pernah sama sepanjang manusia ada di dunia ini.

Kehidupan di Luar Bumi

Nah, untuk meyakinkan bahwa “mustahil” ada kehidupan lain di luar Bumi saya akan menyajikan data-data ilmiah yang membantu kalian memahami bahwa begitu tipisnya peluang adanya kehidupan di luar Bumi, meskipun kita memikirkan satu saja kemungkinan adanya unsur kehidupan, maka harus ada aspek detail lain dari satu unsur tadi yang harus diperhatikan yang saling memiliki ketergantungan.

Sebenarnya, jika kita mengadakan pengkajian secara detail dan terperinci terhadap alam semesta, maka akan menjelaskan secara rinci kepada kita bahwa segala sesuatu dari hukum-hukum kosmik yang paling fundamental hingga sifat-sifat fisik yang paling kritis, dari berbagai keseimbangan terkecil hingga rasio terhalus di dalamnya telah dirancang hanya untuk memenuhi kehidupan di bumi. Ketepatan ini diatur pada nilai-nilai yang ideal bagi keberadaan manusia, tidak sekedar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang.

Hal ini dinyatakan sendiri oleh para ahli kosmologi dan fisika teoritis dalam tulisan-tulisannya.

Kehidupan di Luar Bumi
Ahli astronomi NASA, Profesor John O’Keefe

Kita semua, dengan patokan astronomis, adalah sekelompok makhluk yang dimanjakan, dilindungi, dan diutamakan. Jika tidak dibuat dengan kepresisian yang paling tepat, alam semesta ini tidak akan pernah ada. Dalam pandangan saya, keadaan ini menunjukkan bahwa alam semesta diciptakan untuk ditinggali oleh manusia.

Kehidupan di Luar Bumi
Ahli astrofisika Inggris, Profesor George F. Ellis

Penyelarasan halus terjadi pada hukum-hukum yang membuat (kompleksitas) ini mungkin. Kesadaran akan kompleksitas dari apa yang tercapai membuat amat sukar untuk tidak menggunakan kata ‘ajaib’.2

Kehidupan di Luar Bumi
Ahli astrofisika lnggris, Profesor Paul Davies

Hukum-hukum (fisika) sendiri tampak sebagai produk dari rancangan yang teramat jenius.3

Kehidupan di Luar Bumi
Ahli matematika lnggris, Profesor Roger Penrose

Saya dapat mengatakan bahwa alam semesta mempunyai tujuan. Ia tidak begitu saja ada oleh kebetulan.4


Faktor-faktor di alam semesta yang mempengharuhi terbentuknya Bumi

Dari laju perkembangan alam semesta hingga lokasi Bumi kita di Galaksi Bimasakti, dan spektrum radiasi Matahari hingga nilai visko­sitas air, dari jarak Bulan ke Bumi hingga rasio gas-gas yang memben­tuk atmosfer, serta hal-hal serupa lainnya yang tidak terhitung banyaknya merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan keberadaan manusia. Oleh sebab itu, perubahan terkecil pada satu saja dari faktor-faktor tersebut akan membuat kehidupan di Bumi ini musnah!

Apa sajakah faktor-faktor yang membuat Bumi ini tercipta untuk memenuhi kehidupan? Saya akan rinci beberapa faktor dibawah ini yang hampir dibilang “mustahil” Bumi terbentuk jika satu saja dari faktor-faktor ini tidak ada maka Bumi tidak akan memenuhi kehidupan.

1. Keajaiban laju ekspansi alam semesta

Setelah terjadinya Dentuman Besar (Big Bang), maka terjadi ekspansi (pengembangan) terhadap semua yang ada di jagat raya. Jika ada satu fraksi saja dari laju ekspansi yang lebih lambat, keseluruhan alam semesta akan berkontraksi dan runtuh ke dalam dirinya sebelum terbentuknya sistem tata surya kita. Jika laju ekspansi satu fraksi saja lebih cepat, materi akan terpencar selamanya di keluasan angkasa. Dengan begitu tidak akan ada bumi, bulan, planet-planet dan matahari kita yang memebentuk suatu sistem tata surya yang memenuhi kehidupan.

Kehidupan di Luar Bumi

Berapakah nilai sensitif dari laju ekspansi yang dibutuhkan?

Paul Davies, seorang profesor Matematika dan Fisika terkenal dari Adelaide University di Australia, membuat serangkaian kalkulasi untuk menjawab pertanyaan ini, Hasil yang ia dapatkan sungguh menakjubkan. Menurut Davies, jika saja laju ekspansi setelah Dentuman Besar berbeda satu per miliar miliar (1/1018), alam semesta tidak akan terbentuk! Cara lain menuliskan angka ini adalah dengan menjajarkan 18 angka nol yaitu “0,000000000000000001“. Perbedaan berapa pun dari nilai ini tidak akan ada alam semesta sama sekali. Davies menginterpretasikan hasil ini sebagai berikut:

Pengukuran yang hati-hati menghitung laju ekspansi sangat dekat dengan nilai kritis di mana alam semesta akan terlepas dari gravitasinya sendiri dan mengembang selamanya. Jika sedikit lebih lambat, kosmos akan runtuh; jika sedikit lebih cepat, material kosmos akan tercerai berai sejak dahulu kala. Menarik untuk mempertanyakan secara persis betapa kehalusan laju ekspansi telah di-“tata” agar tepat berada pada garis pemisah yang sempit antara kedua kehancuran. Jika pada waktu 1 detik (tempat pola waktu ekspansi telah benar-benar tetap) laju ekspansi berbeda dari nilai ak­tualnya lebih dari 10-18, sudah cukup untuk merusak keseimbangan yang halus itu. Jadi, kekuatan eksplosif alam semesta bersesuaian dengan kekuatan gaya tariknya dengan akurasi yang hampir tak dapat dipercaya, Dentuman Besar jelas-jelas bukan dentuman biasa, namun sebuah ledakan yang besarnya dirancang secara indah. 5

Kehidupan di Luar Bumi
Kecepatan pengembangan alam semesta adalah angka yang teramat sensitif. Terjadi perbedaan sedikit saja sepermiliar miliar dari laju pengembangan, alam semesta yang sekarang kita huni tidak akan pernah terbentuk. Ini bagaikan meletakan sebuah pensil pada ujung sedemikian rupa sehingga tetap tegak selama saru miliar tahun. Lebih jauh lagi, begitu alam semesta berkembang keseimbangan ini semakin bertambah rumit.

Walaupun beberapa kali Stephen Hawking mencoba untuk menganggap alam semesta berasal usul dari peristiwa kebetulan, namun dia akhirnya mengakui fakta luar biasa dari laju ekspansi alam semesta ini dalam bukunya, A Brief History of Time:

Jika laju ekspansi satu detik setelah Dentuman Besar lebih kecil satu per seratus juta juta, alam semesta akan runtuh sebelum mencapai ukurannya saat ini.6

2. Jarak antar benda angkasa di alam semesta mempengaruhi terbentuknya Bumi

Planet Bumi kita merupakan bagian dari tata surya yang memiliki 8 planet dengan Bumi sebagai planet ketiga yang mengorbit Matahari. Diameter Matahari adalah 103 kali diameter Bumi. Sebagai per­bandingan, bayangkanlah Bumi seukuran kelereng (ukuran diameter sebenarnya adalah 12.200 km atau 7.500 mil). Sebagai bandingannya, Matahari kita akan berupa sebuah bulatan dengan ukuran tiga kali bola sepak. Namun, yang benar-benar menarik adalah jarak antara keduanya. Pada skala ini, jaraknya adalah 280 meter. Planet-planet yang berada di bagian luar jangkauan sistem akan berkilometer-kilometer jauhnya dari bulatan yang mewakili Matahari.

Namun, ukuran raksasa tata surya ini sebenarnya kecil jika dibanding dengan Galaksi Bimasakti kita. Bimasakti mempunyai sekitar 250 miliar bintang (matahari). Bintang (matahari) yang terdekat adalah Alpha Centauri. Jika Bumi dan Matahari berjarak 280 meter sebagaimana pada contoh di atas, maka, pada skala yang sama, Apha Cenlauri akan berjarak sejauh 78.000 km.

Kehidupan di Luar Bumi

Mari kita perkecil skala ini hingga Bumi menjadi sebesar partikel debu yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang. Maka, Matahari akan seukuran sebuah kacang yang jaraknya tiga meter dari Bumi. Pada skala baru ini, Alpha Centauri akan berjarak sejauh 64 km jaraknya. Namun, Galaksi Bimasakti memiliki 250 miliar bintang dengan jarak yang bahkan jauh lebih fenomenal di antara mereka. Tata surya kita hanyalah sebuah noda di galaksi berbentuk spiral ini.

Bimasakti sendiri meliputi sebuah area yang relatif amat kecil di ruangan semesta jika kita perhitungkan bahwa terdapat sekitar 300 miliar galaksi lain yang sejenis dan bahwa jarak antara mereka adalah jutaan kali lebih besar daripada Matahari kita dengan Alpha Centauri.

Kehidupan di Luar Bumi

Penyebaran benda-benda langit di seluruh penjuru alam semesta dan ruang-ruang di antara mereka penting bagi kondisi kehidupan kita di Bumi. Jarak antara bintang-bintang disusun oleh gaya-gaya kosmik sedemikianrupa sehingga memungkinkan adanya kehidupan di Bumi. Jarak-jarak ini mempunyai pengaruh langsung pada orbit planet-planet dan bahkan keberadaan mereka sendiri. Jika mereka sedikit lebih dekat, tarikan gravitasional antara bintang-bintang akan mendestabilisasi orbit planet-planet dan menyebabkan fluktuasi suhu yang ekstrem. Jika mereka lebih jauh lagi, distribusi unsur-unsur yang lebih berat, yang melesat ke ruang angkasa dari supernova-supernova, tidak akan pernah mencapai densitas yang dibutuhkan untuk mem­bentuk planet-planet yang padat seperti Bumi.

Kehidupan di Luar Bumi

Jarak-jarak yang terdapat di antara bintang-bintang adalah beru­pa ruang-ruang yang sangat memungkinkan keberadaan berbagai tata surya, termasuk tata surya kita. Michael Denton, seorang profesor blokimia terkenal, menulis di dalam bukunya, Nature’s Destiny:

Jarak antar supernova dan tentunya antar semua bin­tang penting sekali karena alasan-alasan lain. Jarak antarbintang di dalam galaksi kita sekitar 30 juta mil. Jika jarak ini jauh lebih kecil, orbit-orbit planet akan terdestabilisasi. Jika jauh lebih besar, reruntuhan yang dilemparkan oleh sebuah supernova akan tersebar sehingga sistem-sistem planet seperti yang kita punyai tidak pernah mempunyai kemungkinan untuk terbentuk sama sekali. Jika kosmos merupakan rumah bagi kehidupan, kerlipan supernova harus terjadi pada laju yang sangat persis dan jarak rata-rata di antara mereka dan tentu saja di antara semua bintang haruslah sangat dekat dengan angka yang aktual teramati.7

Dalam The Symbiotic Universe, astronom George Greenstein menulis tentang jarak yang mengejutkan ini:

Jika bintang-bintang karena suatu hal lebih dekat, astrofisika tidak akan terlalu berbeda. Proses-proses fisik fundamental yang terjadi di dalarn bintang, nebula, dan sebagainya akan berjalan tanpa per­ubahan. Jika dilihat dari titik pandang di suatu kejauhan, tampilan galaksi kita akan sama saja. Tentang satu-satunya perbedaan adalah langit kala malam (yang saya pandang sambil berbaring di rerumputan) akan lebih kaya dengan bintang. Dan … oh, ya, sebuah perbedaan kecil lainnya: tidak akan ada saya di sana untuk memandangnya …. Sungguh pemubaziran ruang! Di sisi lain, pada kemubaziran inilah tergantung keselamatan kita.8

Luasnya ruang kosong di alam semesta, jelas Greenstein, menen­tukan nilai dari variabel-variabel fisik yang membuat kehidupan manusia di Bumi menjadi mungkin dan juga mencegah Bumi bertabrakan dengan benda-benda langit lainnya yang berkelana di alam semesta. Singkatnya, penyebaran bintang-bintang di alam semesta sudah tepat sebagaimana seharusnya untuk keberadaan manusia di muka Bumi. Luasnya angkasa kosong bukanlah suatu kebetulan, melainkan diciptakan. Dalam banyak ayat AI Quran, Allah mengungkapkan bahwa langit dan Bumi telah diciptakan dengan sebuah tujuan:

Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat ( kiamat ) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

(QS. Al Hijr ayat 85)

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(QS. Ad-Dukhan ayat 38-39)

 

Kesimpulan

Sejauh dari yang kita amati, yaitu dari dua faktor ini saja sangatlah tipis peluang adanya kehidupan di luar Bumi.

 

Sumber :
Hahya, Harun. 2007. Rantai Keajaiban. Bandung : Dzikra.
_________________

  1. F. Heeren, Show Me God. Wheeling, IL, Searchlight Publication 1995, hlm 200
  2. George F. Ellis. 1993. The Anthropic Principle: Laws and Environments. The Anthropic Principle, F. Bertola and U.Curi, ed. (New York, Cambridge University Press), hlm. 30.
  3. Paul Davies. 1984. Superforce: The Search for a Grand Unified Theory of Nature. (New York: Simon & Schuster, 1984), hlm 243
  4. Roger Penrose. 1992. A Brief History of Time (movie). Burbank, CA, Paramount Pictures, Inc.
  5. Paul Davies, Superforce, hlm 184, penekanan ditambahkan
  6. Stephen Hawking, Brief Hostory of Time, Bantam Press, London, hlm 121-125, penekanan ditambahkan
  7. Michael Denton, Nature’s Destiny, The New York: The Free Press, 1998, hlm. 11.
  8. George Greenstein. The Symbolic Universe, New York: William Morrow, 1998, hlm. 21, penekanan ditambahkan