Sisa-sisa Peninggalan Kaum Terdahulu, Bukti Kebenaran Multak Al Qur’an (2)

0
13619

Hampir semua peristiwa penghancuran yang diceritakan dalam Al Quran “dapat diamati” dan “dapat dikenali” berkat berbagai penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini terhadap arsip serta temuan-temuan arkeologis. Berhubungan dengan artikel saya sebelumnya yang berjudul Sisa-sisa Peninggalan Kaum Terdahulu, Bukti Kebenaran Multak Al Qur’an (1), pada artikel ini kita akan menelusuri sisa-sisa peninggalan kaum terdahulu bagian ke 2, yaitu kaum Ad dan Tsamud.

Berikut adalah penelitian-penelitian yang membenarkan peristiwa dari sisa-sisa peninggalan kaum terdahulu dalam Al Qur’an (bagian 2).

Kaum Ad, Kaumnya Nabi Hud As.

Pada awal tahun 1990 muncul keterangan pers dalam beberapa surat kabar terkemuka di dunia yang menyatakan dalam beberapa judulnya seperti “Kota Legenda Arabia yang Hilang Telah Ditemukan”, “Kota Legenda Arabia Ditemukan” atau “Ubar, Atlantis di Padang Pasir.” Yang membuat temuan arkeologis ini lebih menarik adalah kenyataan bahwa kota ini juga disebut dalam Al Quran.

Adalah Nicholas Clapp, seorang arkeolog amatir yang menemukan kota legendaris yang disebutkan dalam Al Quran ini1. Sebagai seorang Arabophile dan pembuat film dokumenter berkualitas, Clapp telah menjumpai sebuah buku yang sangat menarik selama penelitiannya tentang sejarah Arab. Buku ini berjudul Arabia Felix yang ditulis oleh seorang peneliti Inggris bernama Bertram Thomas pada tahun 1932. Arabia Felix adalah penamaan Romawi untuk bagian selatan semenanjung Arabia yang dewasa ini mencakup Yaman dan sebagian besar Oman. Bangsa Yunani menyebut daerah ini “Eudaimon Arabia”.

Thomas, sang peneliti Inggris ini memaparkan dengan panjang lebar dan menyatakan bahwa ia telah menemukan jejak sebuah kota kuno yang dibangun oleh salah satu dari suku-suku ini3. Itulah kota yang dikenal suku Badui dengan sebutan “Ubar”. Pada salah satu perjalanannya ke daerah tersebut, orang-orang Badui yang hidup di padang pasir itu menunjukkan jalur-jalur usang dan menyatakan bahwa jalur-jalur tersebut mengarah ke kota kuno Ubar. Thomas, yang sangat berminat dengan hal ini meninggal sebelum mampu menuntaskan penelitiannya.

Sisa-sisa dari kota Ubar, tempat tinggal kaum ‘Ad, ditemukan di suatu tempat dekat tanjung Oman.

Clapp melanjutkan mempelajari berbagai manuskrip dan peta kuno di perpustakan Huntington di California. Tujuannya adalah untuk menemukan peta dari daerah tesebut. Setelah melalui penelitian singkat, ia menemukan sebuah peta yang digambar oleh Ptolomeus, ahli geografi Yunani-Mesir di tahun 200 M. Pada peta ini ditunjukkan lokasi sebuah kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan jalan-jalan yang menuju kota tersebut.

Clapp, setelah mengkaji tulisan Thomas, meyakini keberadaan kota yang hilang tersebut. Clapp membuktikan keberadaan Ubar dengan dua cara. Pertama, ia menemukan jalur-jalur yang menurut suku Badui benar-benar ada. Ia meminta NASA (Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat) untuk menyediakan foto satelit daerah tersebut. Setelah perjuangan yang panjang, ia berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah tersebut4.

Lokasi kota ‘Ad ditemukan dengan foto-foto yang diambil dari pesawat ulang alik. Dalam foto tersebut, tempat jalur-jalur kafilah bertemu ditandai, dan mengarah ke Ubar. Ubar (titik nomor 1), hanya dapat dilihat dari luar angkasa sebelum dilakukan penggalian (titik nomor 2). Kota yang berada 12 meter di bawah pasir ditemukan dengan penggalian.

Dalam foto-foto tersebut, beberapa jalur kafilah menjadi terlihat, suatu hal yang sulit dikenali dengan mata telanjang, namun dapat dilihat sebagai satu kesatuan dari luar angkasa. Dengan membandingkan foto-foto ini dengan peta tua yang di tangannya, akhirnya Clapp mencapai kesimpulan yang ia cari yaitu jalur-jalur dalam peta tua sesuai dengan jalur-jalur dalam gambar yang diambil dengan satelit. Tujuan akhir dari jejak-jejak ini adalah sebuah situs yang luas yang ditengarai dahulunya merupakan sebuah kota.

Begitu reruntuhan-reruntuhan mulai digali, diketahui bahwa kota yang hancur ini adalah milik kaum ‘Ad dan berupa pilar-pilar Iram yang disebutkan dalam Al Quran, karena di antara berbagai struktur yang digali terdapat menara-menara yang secara khusus disebutkan dalam Al Quran. Dr. Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian mengatakan bahwa karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Al Quran.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr, 89: 6-8)

Inilah foto-foto reruntuhan kota Ubar yang ditinggali penduduk Iram saat itu.

Ini adalah sebuah sketsa dari pilar-pilar kota Iram
Selain itu, penggalian-penggalian yang dilakukan di Ubar menunjukkan sisa-sisa sebuah kota  yang ditemukan di bawah lapisan pasir yang ketebalannya bermeter-meter. Di daerah ini, diketahui bahwa bencana badai pasir dapat menyebabkan pasir dalam jumlah yang sangat besar terkumpul dalam waktu sekejap. Hal ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan dengan cara yang tidak terduga-duga.

Masih penasaran? Ini dia video dukumenter Travel Planet Oman – Lost Kingdom of Ubar yang menelusuri kota Ubar, kota hilang yang kini telah ditemukan.

Hasil penggalian tersebut persis seperti yang Allah Swt firmankan dalam Al Quran :

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati berge-limpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al Haaqqah : 6-7)

Kaum Tsamud, kaumnya Nabi Shaleh As.

Penduduk Al Hijr yang disebutkan dalam Al Quran diperkirakan adalah orang-orang yang sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al Hijr. Jadi kata “Tsamud” merupakan nama kaum, sementara kota Al Hijr adalah salah satu dari beberapa kota yang dibangun oleh kaum tersebut.

Ahli geografi Yunani, Pliny sepakat dengan ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat kaum Tsamud berada, dan kota Al Hegra inilah yang menjadi kota Al Hijr saat ini.5

Dari Al Quran diketahui bahwa kaum Tsamud adalah anak cucu dari kaum ‘Ad. Bersesuaian dengan ini, temuan-temuan arkeologis memperlihatkan bahwa akar dari kaum Tsamud yang hidup di utara Semenanjung Arabia, berasal dari selatan Arabia di mana kaum ‘Ad pernah hidup.

Sumber tertua yang diketahui berkaitan dengan kaum Tsamud adalah tarikh kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan kaum ini dalam sebuah pertempuran di Arabia Selatan. Bangsa Yunani juga menyebut kaum ini sebagai “Tamudaei”, yakni, “Tsamud”, dalam tulisan Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny.6 Sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 400-600 M , mereka benar-benar punah.

Dalam Al Quran, kaum ‘Ad dan Tsamud selalu disebutkan bersamaan. Lebih jauh lagi, ayat-ayat tersebut menasihati kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum ‘Ad. Ini menunjukkan bahwa kaum Tsamud memiliki informasi detail tentang kaum ‘Ad.

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberi-kan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan jangan-lah kamu merajalela di muka bu-mi membuat kerusakan.” 
(QS. Al A’raaf, 7: 73-74)

Sebagaimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat hubungan antara kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, bahkan mungkin kaum ‘Ad pernah menjadi bagian dari sejarah dan budaya kaum Tsamud. Nabi Shalih memerintahkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad dan mengambil peringatan dari mereka.

Sesuai yang di gambarkan dalam Al Quran, kaum Tsamud membangun istana-istana megah dan memahat bangunan di gunung-gunung untuk dijadikan rumah. Inilah peninggalan kaum Tsamud yang berada di Petra Valley (Lembah Petra), Yordania.

Petra Valley (Lembah Petra) di Yordania

Dua ribu tahun silam, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa Arab yang lain, yaitu kaum Nabatea. Saat ini di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Yordania, dapat dilihat berbagai contoh terbaik karya pahat batu kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, keunggulan kaum Tsamud adalah dalam pertukangan.

Masih penasaran ingin melihiat situasi disana lebih jauh? ini dia tak ketinggalan saya sertakan video-nya.

SubhanAllah…

Semoga bermanfaat 🙂

Baca juga : Inilah Penemuan Jasad Firaun dan Roda Keretanya yang Tenggelam di Laut Merah

Sumber :

_____________________

  1. Thomas H. Maugh II, “Ubar, Fabled Lost City, Found by LA Team”, The Los Angelas Times, 5 Şubat 1992
  2. Kamal Salibi, A History of Arabia, Caravan Books, l980.
  3. Bertram Thomas, Arabia Felix: Across the “Empty Quarter” of Arabia, New York: Schrieber’s Sons 1932, s. 161
  4. Charles Crabb, “Frankincense”, Discover, Ocak 1993
  5. “Hicr”, İslam Ansiklopedisi: İslam Alemi, Tarihi, Coğrafya, Etnoğrafya ve Bibliyografya Lugati, Clit 5/1, s. 475
  6. Phillip Hitti, A History of the Arabs, London: Macmillan, I970, s. 37.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here