Fasisme, Ideologi Berbahaya Dalam Panggung Sejarah yang Perlu Kita Ketahui

0
766
Dalam artikel saya kali ini, saya akan memaparkan secara singkat dan jelas yang membahas tentang ideologi berbahya Fasisme, mulai dari sejarah dan kebrutalan mereka di panggung dunia.
Terkait tulisan ini, diperlukan bukti-bukti historis dalam pembahasan ini sehingga kita tidak menilainya secara subjektif, tentunya semua ini bukanlah penilaian saya secara pribadi melainkan berdasarkan sumber-sumber yang saya kutip sehingga terlepas dari asumsi dan opini. Pembahasan ini sangat perlu untuk kita ketahui.

Sebagai negara yang berada di wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), kita haurs membentengi diri dari paham-paham atau ideologi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan. Untuk itu kita jangan meninggalkan sejarah, seperti apa kata Bapak Presiden Seokarno bilang, Jasmerah (jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah).

Pidaoto terakhir Presiden Seokarno
Pidato terakhir Presiden Seokarno

Mengenal Fasisme

Fasisme dikenal sebagai ideologi yang lahir dan berkembang subur pada abad ke-20. Ia menyebar dengan pesat di seluruh dunia pada permulaan Perang Dunia I, dengan berkuasanya rezim fasis di Jerman dan Italia pada khususnya, tetapi juga di negara-negara seperti Yunani, Spanyol, dan Jepang, di mana rakyat sangat menderita oleh cara-cara pemerintah yang penuh kekerasan. Berhadapan dengan tekanan dan kekerasan ini, mereka hanya dapat gemetar ketakutan. Diktator fasis dan pemerintahannya yang memimpin sistem semacam itu—di mana kekuatan yang brutal, agresi, pertumpahan darah, dan kekerasan menjadi hukum—mengirimkan gelombang teror ke seluruh rakyat melalui polisi rahasia dan milisi fasis mereka, yang melumpuhkan rakyat dengan rasa takut. Lebih jauh lagi, pemerintahan fasis diterapkan dalam hampir semua tingkatan kemasyarakatan, dari pendidikan hingga budaya, agama hingga seni, struktur pemerintah hingga sistem militer, dan dari organisasi politik hingga kehidupan pribadi rakyatnya. Pada akhirnya, Perang Dunia II, yang dimulai oleh kaum fasis, merupakan salah satu malapetaka terbesar dalam sejarah umat manusia, yang merenggut nyawa 55 juta orang.
Sebuah pemandangan "bom Jerman dari London," diambil dari sampul Illustrated London News
Sebuah pemandangan bom Jerman yang diledakan di London, diambil dari sampul Illustrated London News
Anak-anak menjadi korban kediktatoran fasis di eropa berkuasa saat perang dunia ke II
Anak-anak menjadi korban kediktatoran fasis berkuasa di Eropa selama masa perang dunia ke II
Fasisme adalah sebuah gerakan politik penindasan yang pertama kali berkembang di Italia setelah tahun 1919 dan kemudian di berbagai negara di Eropa, sebagai reaksi atas perubahan sosial politik akibat Perang Dunia I. Nama fasisme berasal dari kata Latin ‘fasces’, artinya kumpulan tangkai yang diikatkan kepada sebuah kapak, yang melambangkan pemerintahan di Romawi kuno.
Ini adalah sebuah patung dari Romawi kuno. Dia berjalan di depan hakim Romawi dan membawa seikat tangkai di tangannya sebagai simbol kekuasaan dan otoritas.
Ini adalah sebuah patung dari Romawi kuno. Dia berjalan di depan hakim Romawi dan membawa seikat tangkai di tangannya sebagai simbol kekuasaan dan otoritas.
Istilah “fasisme” pertama kali digunakan di Italia oleh pemerintahan yang berkuasa tahun 1922-1924 pimpinan Benito Mussolini. Dan gambar tangkai-tangkai yang diikatkan pada kapak menjadi lambang partai fasis pertama. Setelah Italia, pemerintahan fasis kemudian berkuasa di Jerman dari 1933 hingga 1945, dan di Spanyol dari 1939 hingga 1975. Setelah Perang Dunia II, rezim-rezim diktatoris yang muncul di Amerika Selatan dan negara-negara belum berkembang lain umumnya digambarkan sebagai fasis.
Mussolini mengadopsi kapak Romawi yang melambangkan kekuasaannya.
Gambar diatas adalah majalah Italia saat itu, berjudul Il Fascismo Scientifico (Scientific Fasisme).
Untuk memahami falsafah fasisme, kita dapat cermati deskripsi yang ditulis Mussolini untuk Ensiklopedi Italia pada tahun 1932:


Fasisme, semakin ia mempertimbangkan dan mengamati masa depan dan perkembangan kemanusiaan secara terpisah dari berbagai pertimbangan politis saat ini, semakin ia tidak mempercayai kemungkinan ataupun manfaat dari perdamaian yang abadi. Dengan begitu ia tak mengakui doktrin Pasifisme – yang lahir dari penolakan atas perjuangan dan suatu tindakan pengecut di hadapan pengorbanan. Peranglah satu-satunya yang akan membawa seluruh energi manusia ke tingkatnya yang tertinggi dan membubuhkan cap kebangsawanan kepada orang-orang yang berani menghadapinya. Semua percobaan lain adalah cadangan, yang tidak akan pernah benar-benar menempatkan manusia ke dalam posisi di mana mereka harus membuat keputusan besar–pilihan antara hidup atau mati…. (Kaum Fasis) memahami hidup sebagai tugas dan perjuangan dan penaklukan, tetapi di atas semua untuk orang lain–mereka yang bersama dan mereka yang jauh, yang sejaman, dan mereka yang akan datang setelahnya.1

Jelaslah sebagaimana ditekankan Mussolini, gagasan utama di balik fasisme adalah ide mengenai konflik dan perang. Karena dikembangkan dari gagasan ini, Fasisme membangkitkan kepercayaan bahwa suatu bangsa hanya dapat maju melalui perang, dan memandang perdamaian sebagai bagian yang memperlambat kemajuan.

Garis pemikiran serupa diungkapkan oleh Vladimir Jabotinsky, yang dikenal luas sebagai wakil terpenting Yahudi Zionis, dan pendukung hak radikal Israel, yang menyimpulkan ideologi fasistik dalam pernyataannya pada tahun 1930-an:

Sangatlah bodoh orang yang mempercayai tetangganya, sebaik dan sepenuh kasih apa pun tetangga itu. Keadilan hanya ada bagi orang-orang yang memungkinkannya terwujud dengan kepalan tangan dan sikap keras kepala mereka…. Jangan mempercayai siapa pun, senantiasa berhati-hatilah, bawalah selalu tongkatmu—inilah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup dalam pertarungan bagai serigala antara semua melawan semua ini.2

Diktator fasis pertama abad ke-20: Benito Mussolini, memerintah Italia antara tahun 1922 dan 1944.
Diktator fasis pertama abad ke-20: Benito Mussolini, memerintah Italia antara tahun 1922 dan 1944.
Ini adalah lambang bendera Partai Fasis Mussolini. Sebuah batang terikat dengan kapak diujungnya adalah bentuk umum dari lambang fasis. Kapak dan seikat batang melambangkan fasisme di ilustrasi diatas disertai tanda tangan Mussolini.
Ini adalah lambang bendera Partai Fasis Mussolini. Sebuah batang terikat dengan kapak diujungnya adalah bentuk umum dari lambang fasis. Kapak dan seikat batang melambangkan fasisme di ilustrasi diatas disertai tanda tangan Mussolini.

Sparta: Sebuah Model bagi Kaum Fasis

Sparta adalah sebuah negara militer, yang membaktikan diri pada perang dan kekerasan, dan diperkirakan dibangun oleh Likurgus pada abad 8 SM. Bangsa Sparta menerapkan sistem pendidikan yang sangat teratur. Di bawah sistem Sparta, negara jauh lebih penting dibanding perorangan. Kehidupan rakyat diukur berdasarkan manfaat mereka bagi negara. Anak-anak lelaki yang kuat dan sehat dipersembahkan pada negara, sedangkan bayi-bayi yang sakit dibuang ke pegunungan agar mati.

Dunia pagan memiliki sebuah budaya di mana hanya kekerasanlah yang menjadi penyelesai masalah. Seperti halnya bangsa Romawi, suku pagan barbar seperti Vandal, Goth dan Visigoth sangat senang dengan pertumpahan darah.

(Praktik bangsa Sparta ini dijadikan contoh oleh Nazi Jerman, dan dinyatakan bahwa, oleh pengaruh kuat Darwinisme, orang-orang yang sakit-sakitan harus disingkirkan untuk mempertahankan sebuah “ras yang sehat dan unggul”.) Di Sparta, para orang tua bertanggung jawab membesarkan anak-anak lelaki mereka hingga usia tujuh tahun. Setelah itu, sampai usia 12 tahun, anak-anak ditempatkan dalam kelompok-kelompok beranggota 15 orang, dan yang paling menonjol dipilih menjadi pemimpin. Anak-anak mengisi waktu dengan memperkuat tubuh mereka dan mempersiapkan diri untuk berperang dengan berolah raga.

Melek huruf tidak dianggap penting, dan hanya ada sedikit minat terhadap musik atau kesusasteraan. Lagu-lagu yang boleh dinyanyikan dan dipelajari anak-anak hanyalah lagu tentang perang dan kekerasan. (Sangat mirip dengan pendidikan anak dari usia 4 tahun yang diterapkan di bawah fasisme Mussolini dan Hitler). Adat kebiasaan Sparta adalah mengindoktrinasi rakyatnya dalam semangat perang, dengan mengorbankan seni, kesusasteraan, dan pendidikan.

Sparta, Negara Fasis Pertama
Sparta, Negara Fasis Pertama

Kota di Yunani, Sparta, adalah mesin perang brutal. Warga dibesarkan dari bayi menjadi prajurit yang kejam. Membaca, menulis, musik, seni dan sastra dipandang sebagai hal yang tidak penting. Budaya biadab Spartan menjadi inspirasi di balik ideolog fasis abad ke-19 dan ke-20.

Salah satu pemikir terpenting yang memberikan keterangan terperinci tentang Sparta adalah filsuf Yunani kenamaan, Plato. Meskipun ia hidup di Athena, yang diperintah secara demokratis, ia terkesan dengan sistem fasis di Sparta, dan dalam buku-bukunya menggambarkan Sparta sebagai sebuah model negara. Akibat kecenderungan fasis Plato, Karl Popper, salah seorang pemikir terkemuka abad ke-20, dalam bukunya yang terkenal The Open Society and Its Enemies, menggambarkan Plato sebagai sumber inspirasi pertama untuk rezim penindas, dan musuh bagi masyarakat terbuka. Untuk mendukung pernyataannya, Popper merujuk bagaimana Plato dengan tenang membela pembunuhan anak-anak di Sparta, dan melukiskan Plato sebagai pendukung teoretis pertama terhadap “egenetika” (gerakan peningkatan kualitas spesies manusia melalui pengendalian keturunan.):

… Golongan yang mulia harus merasa dirinya sebagai suatu ras unggul yang agung. ‘Ras para pengawal harus dijaga agar tetap murni’, kata Plato (dalam pembelaannya terhadap pembunuhan bayi), saat mengembangkan argumen rasialis bahwa kita membiakkan hewan dengan penuh perhatian namun menelantarkan ras kita sendiri, sebuah argumen yang selalu diulang-ulang sejak itu. (Membunuh bayi bukan kebiasaan orang Athena; Plato, yang melihat hal ini dilakukan di Sparta untuk tujuan-tujuan egenetika, menyimpulkan bahwa tindakan tersebut pastilah berlangsung sejak zaman dulu dan karenanya pasti baik.) Ia meminta prinsip-prinsip yang sama diterapkan untuk memelihara keturunan ras unggul, sebagaimana dilakukan peternak berpengalaman terhadap anjing, kuda, atau burung. ‘Jika Anda tak memelihara keturunan mereka dengan cara ini, bukankah ras burung atau anjing Anda akan memburuk dengan cepat?’ demikian argumen Plato; dan ia berkesimpulan bahwa ‘prinsip serupa berlaku pada ras manusia’. Kualitas-kualitas rasial yang diharapkan dari seorang pengawal atau pasukan tambahan, khususnya, seperti yang dimiliki anjing penggembala. ‘Para atlet-ksatria kita… harus waspada bagaikan anjing penjaga’, tegas Plato, dan ia bertanya: ‘Jelaslah, sepanjang berhubungan dengan kebugaran alamiah mereka untuk berjaga, tidak ada perbedaan antara anak muda yang gagah berani dan seekor anjing yang dibiakkan dengan baik.3

Patung prajurit Sparta dan Plato yang merupakan musuh dari masyarakat terbuka (open society)

Ketika membela model masyarakat Sparta, Plato juga mengajukan aspek lain dari fasisme, yakni penggunaan represi oleh negara untuk mengatur masyarakat. Menurut Plato, tekanan ini harus semenyeluruh mungkin sehingga rakyat tak mampu memikirkan apa pun selain perintah-perintah negara, dan bertingkah laku dalam kesetiaan yang sempurna terhadap kebijakan negara, dengan mengabaikan kecerdasan dan kehendak bebas mereka. Kata-kata Plato berikut ini, yang dikutip Popper sebagai pernyataan lengkap tentang mentalitas fasis, menggambarkan struktur tata tertib fasis:

Prinsip tertinggi di atas segalanya adalah bahwa tak boleh ada seorang pun, baik pria maupun wanita, yang tanpa pemimpin. Pikiran siapa pun tidak boleh dibiasakan berinisiatif melakukan apa pun; tidak boleh kehilangan semangat, bahkan sekadar bermain-main pun tidak boleh. Baik di masa perang maupun damai—ia harus setia mematuhi pemimpinnya. Dalam urusan terkecil pun, ia harus berada di bawah pimpinan. Misalnya, ia hendaklah bangun, bergerak, mandi, atau makan… hanya apabila diperintahkan. Pendeknya, ia harus melatih jiwanya, melalui pembiasaan yang lama, agar tidak pernah mengimpikan bertindak bebas, dan tak memiliki kemampuan untuk itu sama sekali.4


Nazi, Neo Paganisme yang Syarat Fasis

Praktik-praktik neo-pagan (yang anti agama) diujicobakan selama jaman Nazi. Tak lama setelah Hitler berkuasa, hari besar dan perayaan kaum Kristen diganti dengan hari besar dan perayaan pagan. “Ibu Bumi” atau “Ayah Langit” disebut-sebut dalam upacara-upacara pernikahan. Pada tahun 1935, doa-doa Kristen di sekolah dihentikan, dan kemudian semua pelajaran mengenai agama Kristen dilarang.
Tempat dan upacara Nazi adalah meniru kaum pagan kuno
Sebagaimana dijelaskan dalam buku The Pink Swastika, yang membahas ideologi-ideologi pagan Nazi (dan berbagai kecenderungan homoseksual), “kebangkitan kembali paganisme Yunani kuno menjadi sebuah aspek mendasar identitas Nazi”.5

Buku itu menekankan fakta adanya kecenderungan homoseksual dalam gerakan pagan yang membentuk dasar-dasar bagi identitas Nazi. Ia juga memberi contoh menarik tentang hubungan Nazi dengan budaya pagan Yunani:

Siapakah “para intelektual” yang memopulerkan fasisme Nietzschean di Jerman ini? Stefan George, salah satu penyair Jerman terpopuler saat itu, adalah seorang pencabul bocah laki-laki dan “contoh panutan” bagi “Komunitas Istimewa… “George dan para muridnya” menulis bahwa Oosterhuis dan Kennedy “membangkitkan kembali konsep Holderlin yakni Griechendeutschen (Jerman Hellenis)… Buku terakhirnya (Stephen George), Das neue Reich (Kerajaan Baru) yang diterbitkan pada tahun 1928, “meramalkan sebuah jaman di mana Jerman akan menjadi Yunani kedua”. Pada tahun 1933, saat Hitler berkuasa, ia menawari George posisi sebagai ketua umum Akademi Sastra Nazi.6

Orang lain yang mencoba untuk menghidupkan kembali paganisme Jerman adalah Stefan George, dikenal sebagai salah satu penyair besar Jerman, ia memiliki kecenderungan seksual menyimpang kepada anak-anak kecil. George dan pendukungnya mengklaim bahwa Jerman akan menjadi negara Yunani baru.
Untuk membangun kembali paganisme, kaum Nazi juga memanfaatkan seni. Berbagai konsep dan lambang Yunani kuno mulai menonjol di bawah kekuasaan Nazi, dan banyak patung seperti patung Yunani dibuat, yang menggambarkan pria dan wanita kuat dari ras Aria. Hitler mengimpikan sebuah “ras unggul” akan terbentuk melalui egenetika, dan sebuah “kerajaan dunia” yang kejam dan penindas akan didirikan berdasarkan model Sparta. Ungkapan “Reich Ketiga” merupakan penegasan keyakinan akan impiannya ini. (Hitler berusaha mendirikan kerajaan Jerman ketiga dan terbesar setelah dua kerajaan berdiri sebelumnya). Karena impiannya ini, 55 juta orang tewas dalam Perang Dunia II, konflik paling berdarah yang pernah disaksikan dunia. Genocide yang dilakukan Nazi terhadap beragam kelompok etnis seperti Yahudi, Gipsi, dan Polandia, sebagaimana juga para tahanan perang dari bangsa-bangsa lain, merupakan kekejaman yang belum ada tandingannya dalam sejarah.

Foto kekejaman kaum fasis di eropa
Foto-foto kekejaman kaum fasis dalam perang sipil di Spanyol (17 Juli 1936 – 1 April 1939)
Simbol Nazi swastika sering dianggap sebagai simbol Kristen karena kemiripannya dengan salib. Namun, sebenarnya merupakan simbol pagan yang berasal dari kepercayaan Jerman pagan pra-Kristen. Orang pertama yang menggunakan swastika sebagai simbol di Jerman abad ke-20 adalah Jorg Lanz von Liebenfels, salah satu ideolog terkemuka dalam pengembangan ideologi Nazi, yang dapat dianggap sebagai pendiri sebenarnya dari teori rasis tentang ras Jerman. Di masa mudanya ia adalah seorang pendeta Kristen, tetapi karena kecenderungan seksual yang menyimpang, ia diusir dari Gereja meninggalkan Kristen dan beralih kepada kepercayaan pagan. Ia mendirikan organisasi pagan Ordo Novi Templi (Ordo Kuil Baru), dan mengumumkan bahwa mereka menyembah Wotan, salah satu mitos dewa pagan Jerman kuno. (Wotan, atau Odin dalam bahasa utara adalah dewa perang yang naik kuda dan membawa tombak).
Wotan
Wotan
Wotan
Odin
Von Liebenfels ingin mengembalikan kepercayaan menyimpang ini, dan mengumumkan bahwa ia telah memilih swastika sebagai simbol Wotan. Simbol pagan ini kemudian diambil alih oleh Nazi, yang juga menjadi dikhususkan untuk paganisme barbar Eropa, dan mengira mereka sedang melakukan pembantaian, penaklukan dan pembunuhan atas nama Wotan.

Liebenfels, yang meninggalkan Kristen dan berpaling ke paganisme, adalah orang pertama yang menggunakan swastika di abad ke-20 pada Nazi Jerman. Segel di sebelah kiri adalah dari sampul buku Liebenfels. Simbol dewa perang Wotan (Odin) ini kemudian diambil alih oleh Nazi.
Kepatuhan terhadap kepercayaan pagan juga dapat dilihat dalam simbol-simbol yang digunakan oleh Mussolini. Seperti disebutkan sebelumnya, “fasisme,” yang merupakan penemuan Mussolini, berasal dari frasa kata Latin, yaitu seikat batang yang diikatkan di kapak, digunakan di Romawi kuno. Pejabat senior yang dikenal sebagai “lictor” membawa lambang ini yang diyakini sebagai simbol kekuasaan dan kedaulatan.
Simbol paganisme nyata yang ditampilkan pada saat upaca Nazi
Simbol paganisme nyata yang ditampilkan pada saat upacara Nazi
Hitler disambut para prajuritnya dengan menampilkan simbol Swastika khas Nazi
Hitler disambut para prajuritnya dengan menampilkan simbol Swastika khas Nazi
Foto genosida brutal Nazi yang dilakukan di kamp-kamp konsentrasi terungkap. 11 juta orang telah dibunuh dengan metode pemusnahan massal yang mengerikan.
Foto genosida brutal Nazi yang dilakukan di kamp-kamp konsentrasi terungkap. 11 juta orang telah dibunuh dengan metode pemusnahan massal yang mengerikan.
Hitler pemimpin diktator fasis yang membunuh puluhan juta orang tak berdosa ini sebenarnya mengalami ganguan mental, menurut psikiater, Hitler menderita sejumlah masalah kompleks dan psikologis yang tidak seimbang. Tapi propaganda Nazi menggambarkan dia sebagai pemimpin yang sempurna dari Jerman.
Hitler pemimpin diktator fasis yang membunuh puluhan juta orang tak berdosa ini sebenarnya mengalami ganguan mental, menurut psikiater, Hitler menderita sejumlah masalah kompleks dan psikologis yang tidak seimbang. Tapi propaganda Nazi menggambarkan dia sebagai pemimpin yang sempurna dari Jerman.
Demikian ideologi fasis yang saya tulis secara singkat dalam artikel ini, semoga menjadi pelajaran bagi para patriot bangsa khususnya para pemuda agar membentengi negara ini dengan menolak paham ideologi-ideologi berbahaya seperti fasisme dan komunisme. NKRI Harga mati!
Semoga bermanfaat 🙂
Lihat juga artikel saya mengenai Komunisme dibawah ini.

Sumber:

  1. http://legacy.fordham.edu/halsall/mod/mussolini-fascism.asp
  2. Mark Bruzonsky, “Jabotinsky The Legend and Its Power”, Israel Horizons, vol. 29, no. 2, March/April 1981, p. 19.
  3. Karl R. Popper, The Open Society and Its Enemies, vol. I, The Spell of Plato, London, Routledge & Kegan Paul, 1969, p. 51.
  4. Karl R. Popper, The Open Society and Its Enemies, vol. I The Spell of Plato, London, Routledge & Kegan Paul, 1969, p. 7.
  5. Scott Lively, Kevin Abrams, The Pink Swastika, Founders Publishing Corp., Oregon, 1997, p. 19 
  6. Scott Lively, Kevin Abrams, The Pink Swastika, Founders Publishing Corp., Oregon, 1997, p. 70

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here