Eropa Abad Pertengahan adalah tempat kekerasan, barbarisme dan kebodohan. Kefanatikan membabi buta dan kebiadaban yang menguasai masyarakat. Tindakan seperti penukaran paksa, penyiksaan, dan pembantaian atas nama agama telah menyebar di seluruh Eropa saat itu.
Eropa Abad Pertengahan pertama kali mengenal Islam dengan berdirinya Kekhalifahan Umayyah di Andalusia, setelah itu Kekaisaran Ottoman yg dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah dunia, dimana kebajikan dan budaya Islam menyebabkan kemajuan besar di benua itu.
Banyak sejarawan dan sosiolog barat saat ini secara terbuka menyatakan bahwa Islam memainkan peran utama dalam perkembangan budaya Eropa dan dunia.
Peristiwa Pertama yang Memperkenalkan Islam ke Arah Eropa
Budaya Islam selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Eropa. Menurut Ensiklopedia Britannica, Peristiwa pertama yang memperkenalkan Islam ke ranah Eropa yaitu ketika perebutan Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 637-638 M dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). [1]

Padahal, perebutan Yerusalem oleh Khalifah Umar bukanlah didasari oleh perang agama, karena saat itu rakyat Yerusalem yang beragama Kristen dan Yahudi dipimpin oleh penguasa yang zalim, mereka menginginkan kota suci diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Cara Khalifah Umar menaklukan Yerusalem pun tanpa setetes darah yang mengalir, seperti yang diungkapkan oleh sejarawan Karen Armstrong.

Dalam bukunya A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, Karen Arsmtrong mencatat kisah indah tentang penaklukan Yerusalem oleh pasukan Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab.
Armstrong menulis, “Ia (khalifah Umar) memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis.
Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Yerusalem memeluk Islam.
Jika sikap respek terhadap penduduk yang ditaklukkan dari Kota Yerusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di Yerusalem, dengan sangat baik tentunya.”, tegas Armstrong menyampaikan. [4]
Andalusia Pijakan Islam Pertama di Eropa
Spanyol pada Abad Pertengahan diperintah oleh monarki Visigoth dibawah Kekaisaran Romawi. Negara ini melemah demi perjuangan takhta, pertikaian internal, konflik sosial dan agama. Kebanyakan mereka berada di bawah diskriminasi agama, penindasan dan intimidasi.
Dengan penaklukan Muslim Andalusia di tahun 711 Masehi, menjadi sebuah permulaan zaman baru untuk Eropa. Dalam waktu singkat, Malaga, Elvira dan Cordoba juga direbut dengan bantuan masyarakat yang tidak senang dengan aturan Visigoth. Dengan demikian wilayah ini cepat jatuh di bawah kekuasaan Umayyah.

Andalusia tetap menjadi negara Muslim selama 8 abad berikutnya yang telah memperkenalkan Islam ke Eropa. Penaklukan pasukan Islam di wilayah ini mengakhiri diskriminasi agama. Yahudi, Kristen dan masyarakat Muslim mulai hidup dalam kerukunan yang telah jarang terlihat sebelumnya. Seperti yang digambarkan oleh penulis terkenal Spanyol Blasco Ibáñez.
Pengakuan Sastrawan Spanyol Perihal Penaklukan Muslim Andalusia

Penulis terkenal Spanyol Vicente Blasco Ibáñez menggambarkan peradaban yang dibangun umat Islam Spanyol sebagai berikut :
“Pembaruan di Spanyol datang bukan dari utara, tetapi dari selatan sebagai akibat dari penaklukan Islam. Ini adalah gerakan peradaban lebih dari sebuah penaklukan. Berkat ini, peradaban terkaya dan cerdas di Eropa berkembang di Spanyol melalui Abad Pertengahan, dari abad ke-8 sampai abad ke-15.” Lanjut Ibáñez mengatakan…
“Pada saat ini orang-orang di utara yang didera oleh perang agama, dan gerombolan haus darah (barbar) bertindak secara massal, sedangkan penduduk Andalusia melebihi 30 juta, dan semua ras dan kelompok-kelompok agama bertindak dalam kerukunan di dalam populasi itu, sebuah contoh besar pada masa itu, dan publik ditampilkan sangat bersemangat.” [5]
Lahirnya Para Ilmuan & Ulama Hebat
Andalusia secara cepat menjadi salah satu karya seni dan ide-ide peradaban Islam yang paling dihormati. Andalusia adalah sumber cahaya yang menerobos kegelapan dan penderitaan Abad Pertengahan.
Ilmuan dan ulama besar seperti al-Zahrawi, Ibnu Bajjah, Abbas bin Firnas, Muhyiddin Ibn ‘Arabi, al-Qurtubi dan Asy-Syathibi berkembang di sini. Para ilmuwan muslim ini membuat kemajuan besar di berbagai bidang seperti teknologi, arsitektur, kedokteran, astronomi, aljabar, kimia dan sastra.
Karya-karya dari ilmuan dan ulama ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, khususnya bahasa Latin. Banyak orang pada waktu itu terjangkit penyakit menular, tetapi karena banyak karya medis yang dibuat oleh ilmuan muslim, Eropa pun menerapkan metode pengobatan modern ini untuk pertama kalinya.
Terjemahan karya-karya ahli geografi Muslim dan para musafir menyebabkan Eropa memperoleh pengetahuan geografis Timur Tengah dan Timur Jauh. Karya-karya para sarjana ini kemudian digunakan sebagai buku teks di berbagai universitas. Bersamaan dengan rumah sakit, perpustakaan dan sekolah yang menarik mahasiswa dari Eropa Tengah.

Cordoba Dibawah Dinasti Umayyah


Sheila Blair seorang sejarawan dari Universitas Boston menjelaskan kejayaan Cordoba di Spanyol sebagai berikut:
“Kota Cordoba pada abad ke-9 dan 10 adalah salah satu yang terbesar dan paling menarik di Eropa. Kami memiliki gambaran oleh orang-orang yang datang dan berkata, ’seluruh bunga di mana-mana!’, ‘jalan-jalan terbuka!’, ‘lampu indah bersinar’ di kota Utara yang gelap. Cordoba memiliki air yang mengalir. Orang tinggal di rumah besar. Sebaliknya, di Paris, orang-orang tinggal di gubuk-gubuk di tepi sungai.” [8]
Di masa Khalifah al-Hakam II, Cordoba memiliki Universitas yang berhasil menandingi Universitas al-Azhar di Kairo dan Universitas Nizamiyah di Baghdad. Tak heran, banyak pelajar dari berbagai wilayah di Eropa, Afrika dan Asia, baik Muslim maupun non-Muslim, datang ke Cordoba untuk menimba ilmu. [10]

Universitas Cordoba menjadi universitas paling bergengsi di dunia saat itu, berbagai cabang ilmu diajarkan di sini dan para pengajarnya merupakan orang paling ahli di bidangnya.
Terdapat jurusan Ekonomi, Kedokteran, Matematika, Arsitek, Astronomi, Teologi, Hukum dan lainnya. Dosen diberi gaji yang tinggi, para siswa diberi jatah uang khusus dan orang yang tidak mampu diberi beasiswa.
Menurut sejarawan Philip K. Hitti, Universitas Oxford (berdiri tahun 1096 di Inggris) kala itu masih memandang mandi sebagai kebiasaan orang kafir, namun di Universitas Cordoba para ilmuan telah menikmati mandi di tempat-tempat mewah. [11]
Granada Dibawah Dinasti Umayyah
Pada tahun 1232 M, Sultan Muhammad bin Al-Ahmar membangun sebuah istana yang indah di sebuah bukit bernama La Sabica, di kota Granada, Spanyol. Istana ini kemudian dikenal dengan nama Alhambra. Dalam bahasa Arab, bangunan ini disebut “qa’lat al-Hamra” atau Istana Merah. Disebut demikian, karena dinding Istana yang berwarna kemerah-merahan. [12]

Arsitektur Muslim Moor di Spanyol terkenal dengan karya plesterannya yang rumit, beberapa aslinya terbuat dari marmer. Pola sarang lebah dan stalaktit, pilar non-Klasik dan kemegahan terbuka meninggalkan kesan mendalam pada setiap pengunjung.

Penulis terkenal Amerika Washington Irving menulis dalam buku Tales of The Alhambra tahun 1832 dalam kunjungannya ke Istana Alhambra yang ia gambarkan sebagai berikut…
“Arsitekturnya, sama seperti bagian-bagian istana lainnya, dicirikan oleh keindahan dibandingkan kemegahan, menunjukkan cita rasa halus dan anggun serta kecenderungan untuk menikmati kesenangan. Ketika seseorang melihat dekorasi barisan tiang dan benda-benda yang tampak rapuh di ukiran dinding, sulit untuk dipercaya bahwa begitu banyak yang bisa bertahan dari kerusakan selama berabad-abad, guncangan gempa bumi, kekisruhan perang dan pencurian yang dilakukan oleh para pelancong yang berselera tinggi, walaupun tidak kalah buruknya, sudah cukup untuk memaafkan tradisi populer bahwa keseluruhannya terlindungi secara ajaib.”
—Washington Irving, 1832. [13]

Kekaisaran Ottoman Di Balkan, Kedatangan Kedua Islam ke Eropa
Setelah tahun 1354, Kekhilafahan Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) melintasi Eropa dan memulai penaklukkan di Balkan, mengubah negara Utsmaniyah yang hanya berupa kadipaten kecil menjadi negara lintas benua. Kekhilafahan Utsmani mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur dengan penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II (Sultan Muhammad Al-Fatih) tahun 1453.

Sepanjang abad ke-16 dan 17, tepatnya pada puncak kekuasaannya di bawah pemerintahan Suleiman Al-Qanuni, Kesultanan Utsmaniyah adalah salah satu negara terkuat di dunia, imperium multinasional dan multibahasa yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat/Kaukasus, Afrika Utara dan Tanduk Afrika. [14]
Sebelum Ottoman menaklukan Balkan, Banyak masyarakat Ortodoks Balkan yang telah mengalami tekanan sengit dari Katolik Eropa dan memilih hidup di bawah pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Karena Ottoman terkenal dengan sistem Millet-nya. Apakah Millet itu?
Sistem Millet, Teladan Toleransi Antar Umat Beragama Di Kekaisaran Ottoman
Millet adalah sistem yang diterapkan di Kesultanan Utsmaniyah untuk mengatur hukum yang berlaku untuk setiap komunitas agama. Berdasarkan sistem ini, umat Muslim mengikuti hukum syariah, umat Kristen menaati hukum gereja dan umat Yahudi mengikuti hukum halakha. Prinsipnya sama seperti yang ada dalam Pasal 29 UUD 1945 RI di mana negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama & kepercayaannya.

Pada abad ke-19, ketika nasionalisme tengah bangkit di Kesultanan Utsmaniyah, dilancarkan reformasi Tanzimat (1839–1876) yang berujung pada penggunaan istilah “millet” untuk kelompok minoritas yang dilindungi secara hukum, mirip dengan bagaimana negara-negara saat ini menggunakan istilah “bangsa”. Kata “millet” berasal dari bahasa Arab millah (ملة) yang secara harfiah berarti bangsa. [15]
Pembuatan Robot Era Ottoman Membawa Jepang Mengenal Teknologi Robot
Banyak yang mengira bahwa teknologi robot pertama kali ditemukan oleh orang Jepang, namun sistem mekanika robot pertama kali diciptakan oleh ilmuan di masa Abbasiyah tahun 1134 dan robotika modern di masa Ottoman tahun 1889 yang menginspirasi Jepang membuat robot pertamanya di tahun 1920-an. Mari kita buktikan dari dokumen sejarah.

Menurut media-media mainstream, Robot diproduksi pertama kali oleh Jepang pada tahun 1928. Nama robot tersebut adalah Gakutensoku yang berarti belajar dari hukum alam. Robot tersebut mampu membuka dan menutup mata dan tersenyum. Benarkah Jepang yang pertama kali membuat Robot?
Al-Jazari & Musa Dede, Pionir Robot Mekanik & Robot Modern Pertama di Dunia

Sebagian orang barat percaya, pencetus mekanika robot adalah Leonardo da Vinci, namun Leonardo da Vinci menggambarkan prototype mesin otomatis dan mesin pesawat hanya terbatas pada teori saja.
Jauh sebelum da Vinci, ada seorang ilmuan bernama Al-Jazari yang hidup sekitar 1134 di Mesopotamia, sekarang Turki. Al Jazari menulis Kitab fi Ma’rifat al-Hiyal al-Handasiyya (Buku Pengetahuan Ilmu Mekanik). Di dalamnya berisi desain dan analisis peralatan mekanik otomatis yang telah di uji langsung olehnya, jadi bukan sekedar teori belaka. Kitabnya alfakir cantumkan linknya di akhir tulisan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. [16]
Pada awalnya robot adalah bagian dari ilmu mesin dan mekanika, namun seiring perkembangan ilmu elektronika, robot kini adalah bagian dari ilmu elektronika.

Alamet adalah sebuah robot elektronik yang diciptakan pada tahun 1889 oleh ahli jam Kekaisaran Ottoman, Musa Dede. Robot ini diberikan sebagai hadiah kepada Pangeran Komatsu dan Kaisar Meiji di Jepang selama tempo pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Alamet berhasil mendarat di pelabuhan Yokohama di bulan Juni 1890. [17]
Robot ini dapat mengeluarkan suara azan. Alamet memiliki pengaturan untuk melakukan serangkaian tindakan khusus, seperti berjalan sejauh setengah meter, mempersiapkan busur senjatanya, melakukan gerakan shalat (ruku’), berdiri, berbaring dan kembali ke tempat dimana ia memulai. Beberapa gambar dari Alamet dapat dilihat di Yildiz, İstanbul.
Kesimpulan & Penutup
Setelah kita mengetahui bersama tentang Kebangkitan Islam di Eropa abad ke-8 sampai abad ke-19, terbukti Islam telah menerapkan sistem pemerintahan yang toleran dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi cikal bakal peradaban modern, tentunya degan nilai yang bersumber dari Al-Qur’an.
Sangatlah tidak benar jika ada yang menganggap bahwa Islam membawa perpecahan dan kehancuran jika diterapkan di ranah sosial maupun di pemerintahan, sebaliknya Islam bisa jadi solusi masalah perdamaian dunia saat ini.
Allah swt berfirman :
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil (QS. Al Mumtahanah: 8)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” (QS. An-Nur: 55)
Segala kesalahan dalam tulisan, murni dari kekurangan alfakir yang masih perlu banyak belajar. Semoga bermanfaat, Wallahu’alam bishowab
Sumber
1. Jerusalem: Roman rule”. Encyclopaedia Britannica. Encyclopaedia Britannica Inc. Diakses tanggal 29 November 2023.
https://www.britannica.com/place/Jerusalem/Roman-rule#ref242895
2. Pengepungan Yerusalem (636–637). Wikipedia. Diakses tgl 29 Nov 2023
https://id.wikipedia.org/wiki/Pengepungan_Yerusalem_(636%E2%80%93637)
3. Caliph Omar Grand Entry Into Jerusalem (637 AD) – REACTION
https://www.youtube.com/watch?v=iUj69IZ_yII
Caliph Omar Grand entry into Jerusalem (637 AD) | REACTION
https://www.youtube.com/watch?v=P23WhhtLU3k
4. Amstrong, Karen. A History of Jerusalem: One City, Three Faiths. 1997. London: Harper Collins Publishers.
Juga dikutip dari artikel Pujian Sarjana Barat Karen Armstrong Atas Sikap Umar Bin Khattab Saat Taklukkan Yerusalem. Republika.com diakses tanggal 29 November 2023.
5. Blasco Ibanez, A la Sombra de la Catedral, Madrid ty, hlm 22-23
6. Al Zahrawi. Wikipedia. Diakses tanggal 29 November 2023.
https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Zahrawi
Juka dikutip dari artikel Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science by Jim al-Khalili – review. The Guardian. Diakses tanggal 29 November 2023.
https://www.theguardian.com/books/2010/oct/23/arabic-science-jim-alkhalili-review
7. 3 Jejak Arsitektur Indah Islam di Cordoba. Republika.co.id, diakses pada tanggal 29 November 2023.
https://visual.republika.co.id/berita/qf71yw318/3-jejak-arsitektur-indah-islam-di-cordoba
8. Sheila Blair, Boston College, USA. Islam Empire of Faith, Bagian 2, The Awakening
9. Córdoba’s stunning mosque-cathedral showcases Spain’s Muslim heritage. National Geographic, diakses tanggal 30 November 2023.
https://www.nationalgeographic.co.uk/history-and-civilisation/2022/08/cordobas-stunning-mosque-cathedral-showcases-spains-muslim-heritage
10. Caliphate of Cordoba. Ensiklopedia Britannica, diakses 30/11/2023.
https://www.britannica.com/place/Caliphate-of-Cordoba
11. Hitti, Phillip K. A History of the Arabs. London: Macmillan. I970. page 526.
12. Istana Alhambra, Bukti Jejak Kejayaan Islam di Spanyol. Kumparan.com, diakses pada tanggal 30 November 2023.
https://kumparan.com/kumparantravel/istana-alhambra-bukti-jejak-kejayaan-islam-di-spanyol-1tHhrEvrXMa/3
13. The Amazing Architecture of Spain’s Alhambra. thoughtco.com, diakses 30 November 2023
https://www.thoughtco.com/the-alhambra-4138628
14. “Ottoman Empire”. Oxford Islamic Studies Online. 6 May 2008. Diakses tanggal 26 August 2010.
http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t125/e1801?_hi=41&_pos=3
15 Sistem Millet. Wikipedia, diakses tanggal 30 November 2023
https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_millet
16. The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices (Kitab fi Ma’rifat al-Hiyal al-Handasiyya) by ibn al-Razzaz al-Jazari
https://archive.org/details/cover_20200113_2057/page/n47/mode/2up
17. ABDULHAMID HAN AND ROBOT TECHNOLOGY. onaltiyildiz.com diakses tanggal 30 November 2023.
https://www.onaltiyildiz.com/?haber,1293










